NU Dan Segala Keterlambatannya
ilustrasi lambang NU (sumber gambar: liputanislam.com)
Secara organisatoris, NU berdiri pada 16 Rajab 1344 H atau bertepatan dengan 31 Januari 1926. Itu artinya ormas ini sudah berusia 97 tahun dalam hitungan hijriyah dan 94 tahun dalam hitungan masehi. Dan itu berarti juga secara matematis, NU sudah tua dengan berbagai segala dinamikanya..
Di Indonesia sendiri ada beberapa ormas Islam yang sudah melampaui usia 1 abad. Mereka berkembang dan melewati berbagai konflik serta dinamika yang ada. Masing-masing dari mereka juga menyumbangkan kader terbaiknya bagi Islam dan Indonesia. Seperti NU misalnya, sempat mempunyai posisi yang kuat di zaman Orde Lama, namun “dihabisi” di zaman Orde Baru..
Kala itu hampir puluhan tahun orang-orang NU dihambat eksistensinya. Namun rupanya Allah mentakdirkan Gus Dur sebagai presiden Indonesia ke-4. Dan sebagaimana kita tahu bahwa Gus Dur ini adalah cucunya sang pendiri organisasi NU yaitu KH. Hasyim Asy'ari. Selain itu Gus Dur juga pernah menjadi Ketua Tanfidziyah PBNU selama beberapa periode..
Lalu di masa sekarang ada KH. Makruf Amin yang bisa menjadi RI-2. Yang mana KH. Makruf Amin ini sebelum menjabat sebagai wakil presiden pada saat ini, sempat lama menjadi pengurus NU dengan jabatan terakhirnya adalah Rais 'Aam PBNU..
Dengan sederet fakta di atas, bisa dibilang kalau NU itu terkadang keteteran, tapi kemudian bisa solid kembali. Dalam bahasa lain kadangkala ia bisa telat, namun kemudian bisa menyusul. Atau kadang juga ia sering diremehkan, namun terbukti handal. Dan seperti itulah gambaran dinamikanya organisasi NU sejauh ini..
Terkait masalah-masalah NU tersebut (terutama dalam hal telat misalnya), pada sejarahnya memang NU sering mengalaminya. Akan tetapi perlahan dan pasti, NU bisa mengejar segala ketertinggalannya itu yakni dengan cara melakukan modifikasi dan inovasi serta penguatan kembali beberapa hal yang dianggap “keteteran” itu..
Dan berikut ini adalah masalah-masalah keterlambatan NU yang pernah terjadi di sepanjang masa berdirinya organisasi tersebut:
Pertama NU dianggap terlambat berdiri. Di saat kaum Hadrami Alawiyyin menghimpun diri dalam Jam’iyyatul Khair (1905), kaum saudagar muslim Jawa berkumpul dalam Sarekat Dagang Islam (SDI) pada 1906, yang belakangan kemudian bermetamorfosis secara progresif menjadi Sarekat Islam (SI) pada 1911, kaum muslim reformis mendirikan Muhammadiyah pada 1912, kaum Arab modernis mendirikan Al-Irsyad pada 1914 dan sebagainya..
Namun ironisnya pada saat itu kaum muslim tradisional masih belum bergerak menghimpun diri secara resmi. Tercatat hanya ada semacam madrasah kaderisasi seperti Nahdlatul Wathan dan wadah pengasahan intelektual seperti Taswirul Afkar yang diinisiasi ulama muda, KH. A. Wahab Chasbullah di Surabaya pada masa itu..
Padahal secara amaliah, konteks ilmiah dan semangat berjamaah, kaum muslim tradisionalis ini sudah terbentuk lama. Hanya saja belum ada “merk”-nya. Kalau diibaratkan makanan, NU itu diwariskan secara turun temurun dan dari generasi ke generasi. Namun belum mendapatkan istilah atau “merek dagangnya” secara sah pada saat itu..
Itu bisa terjadi karena sebagai bagian dari ajaran ahlussunnah wal jamaah, amaliah dan konteks ilmiah komunitas muslim tradisionalis ini sejatinya sudah berakar selama ratusan tahun. Hal ini bisa dilihat dari metodologi dakwah mereka yang ikut ajaran Walisongo, terus dalam fiqh mereka mengikuti madzhab Syafi’i dan tiga madzhab lainnya..
Sementara itu dalam metode teologi mereka berporos pada ajaran Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi, serta dalam tasawuf mereka berporos pada Imam al-Ghazali dan Abu Hasan As-Syadzili..
Jadi intinya NU itu sudah ada sejak lama, tapi belum terwujud!
Bukan perkara administratif saja yang membuat organisasi ini “telat”. Namun juga dalam soal spiritual. Seperti misalnya KH. M. Hasyim Asy’ari yang tidak mau gegabah mendirikan sebuah wadah sebelum diberi izin oleh KH. Kholil Bangkalan. Setelah diberi isyarat khusus melalui KH. As’ad Syamsul Arifin, barulah beliau setuju dan lalu KH. A. Wahab Chasbullah yang menjadi penggerak militan bersama KH. Bisri Syansuri..
Dan petunjuk langit seperti inilah yang menjadi salah satu ciri khas NU, dalam berorganisasi dalam kurun nyaris seratus tahun. Namun jika dicermati, trio pendiri NU ini sejatinya “hanya memanfaatkan” beberapa hal untuk menghimpun para ulama dalam organisasi baru ini..
Seperti misalnya jaringan murid Syaikhona Kholil Bangkalan, jaringan ulama alumni Tebuireng, jaringan ulama alumni Haramain (Makkah-Madinah), mantan aktivis Sarekat Islam dan jejaring anak cucu Laskar Diponegoro..
Akan tetapi segala keterlambatan ini kemudian dibalas dengan militansi dan progresifitas aktivis NU. Ini terbukti pada saat mendirikan NU, Kiai Wahab juga membentuk sayap Lajnatun Nashihin, semacam divisi propaganda yang berisi para pemuda yang cakap dalam keilmuan dan keorganisasian. Dan ini dampaknya luar biasa dalam perkembangan NU di berbagai daerah..
Kini menjelang satu abad, NU sudah memiliki struktur yang kokoh dan berkembang dari pusat ke daerah. Bahkan NU sudah mempunyai jaringan PCI (Pengurus Cabang Istimewa) yang tersebar di berbagai negara..
Selain PCI NU, ada juga NU Afganistan. NU Afganistan ini pendiri dan aktivisnya adalah orang-orang Afganistan asli, yang kebetulan terpikat dengan NU. Tujuannya utama mereka adalah ingin mengaplikasikan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di negaranya, yang mana kondisinya sering terlibat perang saudara selama hampir 30 tahun..
Selanjutnya keterlambatan NU kedua adalah dalam penataan organisasi. Hal itu pernah diutarakan oleh seorang James Peacock, dalam bukunya yang berjudul Purifying the Faith. Dia bisa tahu tentang kondisi NU karena kebetulan pernah melakukan kunjungan ke kantor Muhammadiyah dan NU di berbagai daerah..
Ceritanya pada awal tahun 1970-an, James Peacock sempat mengunjungi kantor Muhammadiyah di Makassar. Ketika itu dia mendapati kantor yang rapi, manajemen yang tertata disertai dengan pegawai administrasinya..
Hal ini tampak berbeda manakala dia mendatangi kantor NU. Yang mana dia hanya menjumpai seorang penjaga yang sedang duduk santai dan tidak menemukan data atau dokumen yang dibutuhkan sang orientalis itu..
Yang menarik pada saat itu si penjaga kantor tersebut malah justru mengajaknya untuk cangkrukan di sebuah warung kopi dan kemudian berdiskusi panjang lebar tentang berbagai hal..
Memang tampaknya karakteristik tempat kelahiran dua organisasi bisa turut andil juga dalam karakteristik keorganisasiannya. Misalnya Muhammadiyah yang lahir di Yogyakarta, dengan segala ewuh-pakewuh dan tradisi kepriayiannya. Sedangkan NU yang lahir di Surabaya, budayanya lebih multikultural, blokosutho, dan egaliter..
Makanya jangan heran jika dalam Muktamar 2015, surat kabar Jawa Pos sempat menurunkan berita dengan headline; “Laporan dari Muktamar: Muhammadiyah Teduh, NU Gaduh”. Pasalnya dalam pemilihan Ketua Umum, mekanisme di Muhammadiyah tampak lebih halus yang ala-ala priyayi atau lebih mirip rapat keluarga..
Sedangkan di NU cenderung lebih egaliter dan dalam tataran praktis lebih ramai ala bahstul masa-il atau mirip sebuah musyawarah. Meski demikian dalam realitas lain, ternyata Muktamar NU lebih merakyat bila dibandingkan dengan Muktamar Muhammadiyah..
Iqbal Aji Daryono, seorang esais yang berlatar belakang Muhammadiyah, pernah menuturkan tentang pengalamannya mencermati riuh muktamar 2 ormas ini..
Di Muktamar Muhammadiyah, hanya sedikit penjual pernak pernik organisasi seperti kaos, gantungan kunci, maupun poster. Juga nyaris tidak dijumpai para romli alias rombongan liar yang hadir ke acara Muktamar tersebut..
Sementara di dalam Muktamar NU, yang terjadi justru sebaliknya. Jumlah romli bisa lebih banyak jika dibandingkan dengan pengurus struktural yang datang. Selain itu suasananya bukan hanya lebih merakyat, tapi juga lebih heboh..
Jangankan sekedar jualan poster ulama dan cinderamata NU. Namun berbagai macam tukang jualan barang dan jualan jasa hampir semuanya ada. Dari tukang bekam, penjual obat kuat, sampai penjual mainan anak pun ada di sana. Pokoknya benar-benar meriah sekali acaranya..
Rasanya bagi yang pernah menghadiri acara Muktamar NU (minimal Muktamar NU yang terakhir pada tahun 2015), takkan menafikan sejumlah fakta tersebut. Dan pastinya akan setuju dengan pendapat kalau Muktamar NU itu memang benar-benar lebih merakyat..
Kembali ke soal masalah keterlambatan NU yang kedua
Meski sempat tertinggal dalam hal kerapian berorganisasi, namun NU bisa menata diri. Itu dibuktikan dengan database NU dalam kurun 20 tahun terakhir ini yang lebih rapi, meskipun masih ada kekurangannya di sana-sini..
Selain itu manajemennya juga bagus serta penataan dan pendataan aset organisasi pun masih bisa dibilang oke. Soal aset organisasi misalnya, surat kabar Jawa Pos bulan Desember lalu pernah melaporkan kalau lahan senilai 40 miliar di Gresik sudah kembali menjadi asset PCNU Gresik. Padahal pada beberapa tahun lalu, lahan ini sempat dikuasai secara personal..
Satu bulan sebelumnya, gedung bersejarah Markas Besar Olema Djawa Timoer (MBODT), di Waru Sidoarjo yang sebelumnya tidak terawat, diserahkan ke PBNU oleh KH. Asep Saifuddin Chalim. Beliau ini merupakan Pengasuh PP. Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto..
Rumah sakit, klinik kesehatan, panti asuhan, dan beberapa perguruan tinggi di bawah naungan NU juga cukup bagus. Untuk yang terakhir ini, hingga tahun 2019 total ada 262 kampus yang berada di bawah naungan NU maupun berafiliasi dengan NU..
Dulu NU sering diledek tidak bisa membuat kampus maju seperti Muhammadiyah. Namun kini anggapan tersebut bisa dibantah. Sebab faktanya ada beberapa kampus terbaik NU. Seperti diantaranya Universitas Islam Malang, Universitas NU Surabaya (UNUSA) dan UNUSIA Jakarta..
Dan lembaga-lembaga ini menjadi contoh progresifitas NU di bidang manajemen pendidikan. Di berbagai daerah juga mulai banyak berdiri kampus NU. Walau dibuat secara perlahan-lahan, namun menunjukkan perkembangan yang bagus..
Terkait hal ini, kebetulan penulis yang menjadi salah satu pengurus di Lembaga Pendidikan Tinggi (LPT) NU Jawa Timur, hampir setiap hari mendapatkan laporan perkembangan kampus NU di berbagai daerah melalui WhatsApp group (WAG)..
Berikutnya keterlambatan NU yang ketiga adalah mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan. Dulu pada sekitar tahun 1950, KH. A. Wahid Hasyim pernah berujar apabila mencari sarjana di tubuh NU sama sulitnya dengan mencari penjual es di tengah malam..
Kini setengah abad berlalu, rasa pesimisme Kiai Wahid tersebut dibayar tuntas. Karena dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, dengan gerbong yang dimotori putranya sendiri yakni KH. Abdurrahman Wahid, NU melewati dinamika yang luar biasa..
Salah satu indikasinya adalah bahwa anak-anak muda NU sekarang bukan hanya menjadi alumni universitas di Timur Tengah saja. Tapi ada juga yang dari Barat. Selain itu wawasan keagamaan mereka juga meningkat melalui persentuhan dengan peradaban lain, atau yang dalam istilah Gus Dur disebut dengan “Islam Kosmopolitan”..
Selanjutnya para sarjana-sarjana NU itu kemudian membentuk wadah ISNU atau Ikatan Sarjana NU. Karena memang ISNU (pun begitu juga Lakpesdam NU) adalah wadah yang bagus buat para intelektual NU..
Dengan adanya para sarjana-sarjana itu, kini amunisi NU di bidang pendidikan dan pemikiran semakin komplit. Istilahnya untuk mencari seorang magister, doctor dan professor NU atau di bidang apapun, Insya Allah ada..
Kaderisasi ulama di NU juga bagus. Sebab sekarang para ulama mudanya sudah bisa tampil ke muka umum. Sebut saja misalnya KH. Afifuddin Dimyathi (Jombang) melalui karya-karyanya, KH. Bahauddin Nursalim (Rembang) melalui kajian-kajian ilmiahnya atau KH. Yahya Cholil Tsaquf melalui kiprah internasionalnya..
Ini belum termasuk dengan kontribusi mubaligh NU lainnya seperti Gus Muftah dan Gus Muwafiq dengan gaya khasnya masing-masing ketika berceramah di depan para jamaahnya..
Bahkan jika masih kurang, masih ada lagi intelektual NU yang mahir dalam kajian keilmuan Islam klasik dan modern maupun cantolan referensi Baratnya yang membludak. Siapakah dia? Ya beliau adalah Prof. Nadirsyah Hosen, Ph.D. Lalu ada juga Gus Ulil Abshar Abdalla yang kini melakukan gebrakan dengan kajian online dua kitab babon di bidang tasawuf: Ihya Ulumiddin dan al-Hikam..
Forum bahtsul masa-il di berbagai daerah, yang biasanya digerakkan oleh MWC maupun PC juga bagus. Terus apalagi? Kalau mau lebih tahu, anda bisa cek keberadaan Aswaja Center di berbagai daerah yang menjadi kawah candradimuka para pejuang ideologis NU..
Acara PKPNU dan MKNU juga bagus dalam penguatan karakteristik para Muharrik NU. Lalu penerbit-penerbit buku ke-NU-an kini juga semakin percaya diri melakukan bantahan terhadap buku-buku Wahabi maupun buku untuk penguatan ke-aswaja-an..
Selanjutnya keterlambatan NU yang keempat adalah di bidang ekonomi. Ini adalah tantangan paling serius dalam menyongsong satu abad NU. Ini karena potensi jumlah warga NU yang belum termanfaatkan secara baik. Kalaupun ada unit usaha milik NU ataupun yang dikelola Banom NU, biasanya masih membutuhkan manajerial yang bagus..
Di lain pihak keberadan paguyuban Saudagar NU masih bersikap elitis dan organisasi seperti Himpunan Pengusaha NU juga belum banyak berkontribusi dalam peningkatan gerakan santripreneurship di kalangan masyarakat NU..
Dan keterlambatan NU yang kelima adalah soal penguasaan media. Perlu diketahui sebelum tahun 2015, NU babak belur di media sosial. Contohnya saja kalau kita ketik kalimat “Apa Hukum Tahlilan?” di mesin pencari Google, maka yang keluar adalah jawaban-jawaban yang justru menyudutkan amalan tersebut..
Dan kita tahu, bahwa jawaban itu keluar dari situs-situs yang memang sering menyerang NU dan atau sering memvonis amaliyah warga NU. Jadi memang sepertinya media sosial dan situs-situs online keagamaan pada saat itu, lebih sering didominasi oleh orang-orang atau kelompok yang tak suka NU..
Yang lebih parah dari itu adalah bahwa sebagian dari situs-situs dimaksud juga berafiliasi dengan faham Islam radikal atau Islam garis keras. Dan inilah yang membuat keadaan kita (terkhusus warga NU), menjadi tambah miris. Soalnya akan sangat berbahaya jika situs-situs tersebut diakses oleh orang-orang awam..
Namun untungnya sejak 2014, situs-situs itu diblokir oleh Kemeninfo dengan dalih akan sangat berbahaya buat masyarakat Indonesia. Karena ini bisa menjadi semacam ajang "pencucian otak" bagi mereka yang masih awam dalam hal agama..
Dan anda tahu dampak dari hal di atas itu apa? Ya perlahan-lahan media-media sosial dan situs-situs keagamaan NU atau yang berbau NU, mulai merangkak naik dan banyak diakses orang-orang. Terutama sekali sejak awal 2019..
Seperti situs NU.Online misalnya, sempat menduduki puncak klasemen sebagai media online yang sering dirujuk dalam kajian keislaman. Setelah itu baru disusul oleh Islami.co dan Alif.id yang notabene juga dikelola oleh jaringan kaum muda NU. Selain di atas, ada juga bincangsyariah.co yang dikelola oleh anak-anak muda yang secara afiliasi ideologis dan gerakan selaras dengan NU..
Akan tetapi kita jangan terlalu senang dulu dengan pencapaian ini. Soalnya belakangan media-media online nasional juga kerap menyajikan informasi dan berita tentang kajian keislaman. Dan akibat dari itu, maka situs-situs media online tersebut lebih sering nangkring di puncak di pencarian Google..
Wajar jika mereka bisa tampil teratas jika patokannya di mesin pencari Google. Soalnya jaringan situs mereka sudah besar dan mumpuni. Sementara media-media online milik NU, belum sebesar mereka-mereka itu. Jadi inilah PR terbesar kita warga NU ke depannya, terutama dalam hal penguasaan media..
Pada intinya melalui tulisan dan ulasan ini, NU itu hampir selalu ketinggalan dalam berbagai hal. Namun kemudian bisa menyusul di etape terakhir. Dan ini mengingatkan saya pada slogan “Lakon mesti menang keri!”, yang artinya (kurang lebih) tak perlu pesimis dengan celotehan orang-orang yang menanamkan “keraguan” terhadap organisasi ini..
Ayo berkhidmahlah di NU dengan ikhlas. Jangan pernah bertanya kita dapat apa dari NU. Tapi apa yang akan kita persembahkan untuk NU. Dan siap menjadi ujung tombak, sekaligus menjadi ujung tombok NU..
Wallahu A’lam Bisshawab
Keterangan: Artikel asli ditulis oleh Rijal Mumazziq Z, dengan beberapa sedikit perubahan
FYI: Beliau ini adalah Rektor Institut Agama Islam Al-Falah Assunniyyah (INAIFAS), Kencong Jember Jawa Timur
