5 Fakta Menarik Di Balik Gelar Juara Olimpiade Greysia Pollii/Apriani Rahayu

5 Fakta Menarik Di Balik Gelar Juara Olimpiade Greysia Pollii/Apriani Rahayu

Indonesia akhirnya meraih medali emas di ajang Olimpiade Tokyo 2020 pada hari senin lalu. Kepastian ini didapat setelah pasangan ganda putri kita yaitu Greysia Polii/Apriani Rahayu, berhasil mengalahkan pasangan asal China Chen Qingchen/Jia Yifan dengan dua game langsung 21-19 21-15, di final nomor ganda putri cabang olahraga bulutangkis..


Greysia Polii/Apriani Rahayu berpose dengan medali emasnya yang diraih di Olimpiade Tokyo 2020 kemarin (sumber gambar: viva.co.id)


Emas ini menjadi emas pertama dan sekaligus juga menjadi emas satu-satunya yang diraih tim kontingen Indonesia di ajang Olimpiade kali ini. Itu dikarenakan Indonesia tak bisa menambah lagi pundi emasnya, oleh sebab perjuangan para wakil kita sudah habis di sana per hari rabu kemarin..


Raihan 1 emas ini tentu saja sangat berarti dan berharga bagi kontingen Indonesia. Soalnya dengan ini, berarti negara kita setidaknya selalu menjaga tradisi, dengan selalu merebut medali emas di setiap gelaran Olimpiade (kecuali tentunya di Olimpiade edisi tahun 2012)...
 
 
FYI: Pada Olimpiade 2012 secara umum kita meraih 2 medali perak dan 1 perunggu dan semuanya dari cabang olahraga angkat besi
 
 
Bukan cuma itu saja. Keberhasilan ini juga turut mewarnai catatan positif sang atletnya, yang dalam hal ini Greysia Polii/Apriani Rahayu. Karena kami mencatat, setidaknya ada fakta menarik dari gelar juara yang direbut pasangan itu. Bahkan diantaranya adalah beberapa rekor tertentu yang dicapai oleh mereka atau salah satunya..
 
 
Penasaran apa saja 4 fakta menarik itu? Berikut ini ulasannya untuk anda..


1. Emas pertama di nomor ganda putri bulutangkis


Sebagaimana kita tahu, bahwa emas Greysia Polii/Apriani terasa spesial bagi tim bulutangkis Indonesia. Sebab ini untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita meraih emas di sektor ganda putri. Sebelumnya di tujuh perhelatan edisi Olimpiade (1992-2016), wakil kita tak pernah meraih hasil apapun di nomor tersebut..


Bahkan jangankan meraih sekeping medali, masuk babak semifinal saja kita belum pernah. Dan dengan keberhasilan Greysia/Apriani ini, maka catatan minor itupun akhirnya terputus..


2. Gelar pelengkap untuk tim bulutangkis Indonesia


Gelar Greysia/Apriani bukan hanya sejarah bagi sektor ganda putri Indonesia. Namun juga sebagai gelar pelengkap bagi tim bulutangkis Indonesia di sepanjang sejarah gelaran Olimpiade. Sebab dengan titel juara ini, berarti tim bulutangkis Indonesia sudah meraih emas di semua sektor..


Sebelumnya di 4 sektor (tunggal putra, tunggal putri, ganda putru, ganda campuran), tim bulutangkis kita sudah merasakan meraih emas dengan catatan paling baik adalah sektor ganda putra yang sudah meraihnya sebanyak 3x (1996, 2000, 2008)..


Hendra Setiawan/Markis Kido, pemain ganda putra Indonesia yang terakhir meraih medali emas di Olimpiade (sumber gambar: indosport.com)


3. Pemain putri tertua yang meraih emas di bulutangkis
 
 
Hal menarik lainnya dari gelar juara yang diraih wakil kita kemarin itu adalah ternyata Greysia Polii menjadi pemain tertua yang meraih medali emas di cabang olahraga bulutangkis Olimpiade. Ini dikarenakan ia meraihnya di saat sudah berusia 33 tahun 356 hari..
 

Sebelumnya pemain wanita tertua yang meraih gelar juara Olimpiade di cabang olahraga yang sama adalah pemain China yaitu Zhang Ning pada Olimpiade Beijing 2008 lalu. Kala itu ia meraihnya pada saat berusia 33 tahun 89 hari..

 
4. Pemain bulutangkis Indonesia pertama yang meraih emas di semua multi event olahraga
 
 
Dengan menyabet emas kemarin, bukan saja menobatkan Greysia Polii menjadi pemain wanita tertua yang merebut emas di Olimpiade. Namun juga menjadikan ia sebagai pemain bulutangkis wanita pertama di Indonesia yang bisa berhasil juara di 3 multievent olahraga internasional yang berbeda..
 
Ketiga multievent tersebut adalah Sea Games pada tahun 2019, Asian Games
pada tahun 2014 dan terakhir tentunya event Olimpiade 2020 Tokyo
kemarin. Jika di Sea Games Greysia Polii meraihnya bersama pasangan yang
sekarang, maka pada Asian Games 7 tahun yang lalu ia meraihnya bersama
Nitya Krishinda Maheswari..
 
 
Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari dengan podium medali emas yang diraihnya pada saat Asian Games 2014 (sumber gambar: bolalob.com)


5. From zero to hero untuk Greysia Polii


Dan gelar juara Olimpiade kemarin juga bukan saja membuat Greysia Polii menjadi panen rekor. Namun membuat ia bisa membuktikan kepada publik masyarakat Indonesia dan dunia, kalau sejatinya ia bisa bangkit dari keterpurukan yang sempat menderanya di masa lalu..
 

Ya dengan gelar juara Olimpiade 2020 Tokyo ini, mungkin saja banyak orang-orang yang kemudian mengelu-elukannya atau bahkan menyanjungnya sebagai pahlawan olahraga. Tapi tahukah anda jika di Olimpiade 2012, justru yang terjadi malah sebaliknya..
 

Kala itu Greysia Polii terlibat skandal "Kartu Hitam" yang membuatnya harus didiskualifikasi dari turnamen bulutangkis Olimpiade di edisi tahun tersebut. Tentu saja cerita skandal itu membuatnya jadi kecaman banyak pihak, termasuk dari warga masyarakat kita..
 
 
insiden skandal "kartu hitam" di pertandingan bulutangkis Olimpiade tahun 2012 yang melibatkan Greysia Polii dan lawannya pada saat itu yakni pemain Korea Selatan
 

Kini 9 tahun berlalu, cerita suram itu pun berbuah manis buat dirinya. Dan ibarat sebuah film, ia jadi seperti "from zero to hero", dengan pembuktian gelar juara yang didapat di Tokyo kemarin itu..


Oke demikian informasi yang bisa kami bagi pada hari ini. Semoga bisa bermanfaat dan mohon maaf apabila ada salah-salah kata atau kalimat yang kami buat, pada postingan yang kami tulis di atas..
Posting Komentar