Lonceng Kematian di Hari Rebo Wekasan
ilustrasi gambar oleh ahtenane.com
Malam telah larut. Pun suasana di pondok pesantren yang saya diami kala itu, sudah tampak sepi dari hingar bingar celotehan para penghuninya. Ya walaupun pondoknya kecil dan sederhana, namun kalau sudah pada ngumpul, ramainya bukan kepalang. Maklumlah, namanya juga anak pondok yang terkenal suka guyon. Apalagi di pondok tersebut mayoritas penghuninya 100% laki-laki..
Karena sudah larut malam itu, saya pun kemudian mencoba memejamkan mata untuk tidur. Tentu saya mempunyai alasan, kenapa saya harus segera istirahat secepat kungkin. Itu dikarenakan kebetulan di esok hari ada acara tradisi Rebo Wekasan di pondok saya. Dan sebagaimana lazimnya di manapun, kalau tradisi tersebut memang seringnya digelar di setiap pagi hari..
Akan tetapi pada kenyataannya saya sulit untuk tidur pada malam itu. Padahal waktu sebenarnya telah menunjukan dini hari dan padahal pula beberapa malam sebelumnya saya selalu kurang tidur. Jadi mestinya pada malam itu, saya bisa tidur nyenyak dalam keadaan kondisi yang demikian..
Ntah apa gerangan sebabnya, yang membuat saya sulit buat istirahat ke alam mimpi pada saat itu. Alih-alih mata ini segera shutdown, yang ada saya malah hanya bisa gulang-guling saja sembari fikiran kemana-mana. Waktu itu saya tidak memikirkan apa-apa, kecuali berkhayal yang tidak-tidak..
*yang terakhir itu memang kebiasaan saya kalau lagi sulit tidur..hehe
Dan akhirnya dalam sitkon tersebut, saya pun hanya bisa termenung nan pasrah sambil menunggu waktu pagi datang menjelang. Dalam pada itu saya pun kemudian menyalakan sebatang rokok buat sebatas menghilangkan kebethean pada malam itu. Dan memang aktifitas ini sering saya lakukan di kala dalam keadaan sulit tidur..
Selanjutnya setelah merasa bingung mau ngapain lagi, saya pun kemudian mencoba kembali untuk memejamkan mata. Ya meskipun sebenarnya masih susah, namun saya tetap mencoba. Ini pun saya merasa tidak fokus, karena otak saya kadang masih suka kemana-mana..
Akan tetapi percobaan kali ini ternyata berakhir sukses. Sebab tanpa dinyana saya tiba-tiba terlelap dalam beberapa saat. Namun ini juga cuma sebentar, karena kemudian saya terbangun lagi saat mendengar, ada orang yang menggedor-gedor pintu kamar saya dengan kencang dan keras. Kala itu waktu sudah menunjukan sekitar pukul 5 pagi.
Sebenarnya waktu itu agak kesal juga sih. Soalnya baru saja mata ini terjaga, eh sudah diajak melek lagi oleh sebab suara gedoran pintu tersebut. Meski begitu karena merasa penasaran, saya pun sejurus kemudian membukakan pintu kamar saya, walau pada saat itu mata masih dalam keadaan mengantuk dan raga ini seperti enggan beranjak
dari tempat tidur (yang cuma sekedar beralaskan karpet)..
dari tempat tidur (yang cuma sekedar beralaskan karpet)..
Ketika itu saya hanya berasumsi, mungkin sepertinya ada hal yang urgent yang harus saya tahu pada saat itu. Atau mungkin juga ini hanya ulah iseng dari teman-teman pondok saya, yang memang terkenal suka bercanda antara satu sama lainnya..
Dan benar saja, ternyata yang menggedor-gedor pintu kamar saya itu hendak mengabarkan sesuatu yang belakangan menjadi shock berkepanjangan bagi saya. Ya kala itu teman saya (yang menggedor-gedor pintu tersebut), memberi tahu saya kalau isteri guru kami wafat..
Sontak saya langsung kaget bin terkejut mendengar informasi itu. Soalnya antara percaya dan tidak. Saya merasa teman saya itu hanya sedang bercanda, mengingat keadaan isteri guru kami pada hari-hari sebelumnya baik-baik saja dan sehat wal-afiat. Pun beliau yang saya tahu, tidak sedang menderita sakit serius pada saat itu..
Bahkan yang membuat saya merasa bahwa kalau kabar itu seperti hoax adalah bahwa sehari sebelumnya isteri guru kami itu masih mondar mandir di sekitar area Pondok. Jadi waktu itu saya secara pribadi merasa kabar ini seperti nggak masuk logika..
Akan tetapi kabar kepergian isteri guru kami itu memang benar adanya. Sebab beberapa saat setelah itu (pasca teman saya ngasih tahu), saya kemudian bersama teman-teman pondok saya bertakziah ke rumah guru kami dan melihat langsung jasad beliau yang sudah terbujur kaku serta sudah ditutupi sebuah kain yang panjang..
Asli! Pada saat itu saya baru benar-benar percaya kalau isteri guru kami pada pagi itu telah meninggalkan kami semua. Dan tentu saja kabar ini sekaligus juga membuat pondok pesantren kami seketika berduka di hari itu..
Selanjutnya setelah itu para tamu mulai berdatangan untuk melayat dan atau bertakziah. Cukup banyak waktu itu yang datang. Maklum guru kami ini termasuk yang dihormati oleh masyarakat sekitar dan oleh masyarakat lain, termasuk juga oleh para kyai dan ulama di daerah kami..
Dan singkat cerita ketika waktu sudah menunjukan jam 9 pagi, prosesi pemakaman atas jenazah isteri guru kami itu telah selesai dilakukan. Lalu setelah itu tamu-tamu pun kemudian pada pulang. Sementara itu sitkon di pondok kami masih diselimuti duka, karena sebagian dari kami masih merasa bersedih atas berpulangnya isteri guru kami tercinta di pagi ini..
Bukan hanya sekedar bersedih. Namun sejujurnya kami juga masih merasa kaget dan terkejut atas kepergian beliau ini. Bahkan diantara kami masih merasa seperti nggak percaya, dengan apa yang terjadi di pondok kami pada hari itu. Soalnya kepergiannya yang begitu mendadak dengan tanpa ada tanda-tanda gejala penyakit serius yang menimpanya, membuat kami jadi seperti shock..
Saya pribadi bahkan sempat menganggap ini kaya bohongan saja atau ini cuma sekedar sandiwara belaka. Benar-benar peristiwa ini membuat saya kemudian sadar, bahwa kematian itu sejatinya bisa datang kapan saja dengan tanpa memandang waktu, umur dan sebab akibat yang menyertainya..
Akan tetapi gara-gara tersadar itu, belakangan saya menjadi fobia sama kematian. Ini beneran lho! Sejak tragedi duka di pondok saya itu, saya jadi merasa bahwa kematian itu seperti sedang mengintai saya. Bahkan gara-gara hal ini, saya juga jadi fobia sama hal-hal yang berbau kematian..
Ntah menurut orang lain perasaan yang saya alami ini terlalu berlebihan atau tidak, dan atau sayanya yang terlalu "baper" dalam menyikapi kejadian tersebut. Namun yang jelas, perasaan ini sempat membuat saya tersiksa dalam waktu yang lama. Soalnya saya harus membutuhkan waktu kurang lebih setahun, untuk menyembuhkan fobia kematian itu..
Meski demikian saya merasa ada hikmahnya juga sempat mengalami hal itu. Soalnya saya jadi merasa harus memaknai hidup ini dengan baik dan benar. Bukan cuma sekedar hidup dan menikmati kehidupan ini, yang sejatinya hanya sementara..
Saya juga bersyukur bahwa fobia kematian yang sempat saya rasakan itu, benar-benar membuat saya ingin menjadi lebih baik lagi dalam hal beragama. Ya walau tidak menjadi seorang yang religius banget, tapi setidaknya pasca mengalami traumatik tersebut saya jadi tidak pernah menyepelekan hak dan kewajiban saya sebagai seorang muslim..
Memang saya anak pondok dan lahir dari keluarga yang sangat religius sekali. Namun sejatinya saya bukanlah seorang muslim yang alim-alim banget. Itu dikarenakan saya juga pernah terjerumus dalam jurang kemaksiatan dan kenakalan, meski mungkin levelnya nggak terlalu parah..
Alhamdulillah, sepertinya memang Allah SWT sayang sama saya dengan memberikan sepercik hidayah melalui wafatnya isteri guru saya di saat menjelang hari Rebo Wekasan. Karena dengan hidayah itu, saya jadi selalu ingat tentang kematian. Dan tentu saja dengan mengingat kematian, saya pun jadi selalu berusaha memperbaiki amal ibadah saya selama ini..
Pada akhirnya saya pun jadi beranggapan kalau wafatnya isteri guru saya itu, sesungguhnya bak ibarat lonceng kematian buat saya. Karena kalau tidak ada peristiwa tersebut, mungkin sampai dengan saat ini saya akan merasa cuek dengan yang namanya kematian..
Bahkan bukan tak mungkin jika tak ada tragedi duka itu, saya pun akan merasa tak peduli dengan jalan hidup saya, agama saya atau perilaku saya selama ini. So sekali lagi saya merasa benar-benar bersyukur atas "musibah" yang menimpa keluarga guru saya itu. Sebab ternyata musibah itu bisa merubah jalan hidup saya sampai sekarang..
Oke demikianlah cerita curhat saya kali ini. Semoga ini bisa menjadi iktibar buat kita semua. Tak lupa saya memohon maaf apabila ada salah-salah kata atau kalimat yang saya buat, pada thread yang saya tulis di atas..
