Kenapa Hari Santri Harus Diperingati?
ilustrasi gambar anak-anak santri (sumber: pixabay.com)
logo HSN tahun 2021 (sumber: tribbunnews.com
Tepat pada hari Jum'at tanggal 22 Oktober besok, kita akan memperingati Hari Santri Nasional (HSN). Dan peringatan HSN tahun ini adalah yang ke-6 kalinya, dari sejak mulai pertama kalinya diberlakukan pada enam tahun silam..
Dari sejak pertama kali dicetuskan, HSN ini memang diperingati di setiap tanggal 22 Oktober. Dan ini memang sesuai Keputusan Presiden (Kepres) Joko Widodo pada saat itu. Tanggal itu dipilih karena bertepatan dengan moment peristiwa dan sejarah fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy'ari pada saat menjelang peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Surabaya..
Dan sebagaimana kita tahu bahwa KH. Hasyim Asy'ari itu adalah salah satu tokoh bangsa dan pahlawan nasional kita di kalangan ulama dan pesantren. Jadi sangat relevan sekali jika moment tersebut dijadikan patokan untuk memperingati hari santri, mengingat ulama dan pesantren itu sangat erat kaitannya dengan identitas seorang santri..
Meski demikian HSN ini pada masanya sempat menimbulkan pro kontra di beberapa kalangan tertentu. Itu dikarenakan fatwa Resolusi Jihad itu dianggap tak pernah ada di buku sejarah bangsa ini. Jadi urgensinya dianggap tidak ada..
Lalu benarkah ceritanya seperti itu? Untuk mengetahuinya, yuk mari kita simak ulasannya di bawah ini berikut fakta sejarah yang sebenarnya terjadi pada masa itu..
Dalam sejarah pertempuran 10 November 1945, awalnya tidak ada yang mau mengakui kalau fatwa dan resolusi jihad itu pernah ada. Sebab menurut tulisan Prof. Ruslan Abdul Gani yang konon pernah ikut terlibat di dalam peristiwa itu, tidak pernah menyebutkannya..
Bung Tomo yang dalam pertempuran itu berpidato sambil teriak-teriak, di dalam bukunya juga tidak pernah menyebutkan bahwa fatwa dan resolusi jihad pernah ada. Pun begitu juga laporan tulisan dari Mayor Jendral Sungkono yang tidak pernah menyebut kalau ada fatwa dan resolusi jihad pada peristiwa yang terjadi di Kota Surabaya tersebut..
Oleh sebab demikian, maka kemudian banyak orang yang menganggap kalau fatwa dan resolusi jihad itu hanyalah dongeng dan cerita orang NU saja..
“Di antara elemen bangsa Indonesia yang tidak memiliki peran dan andil dalam usaha kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia itu hanya golongan pesantren khususnya NU” begitu kesimpulan dalam sebuah acara seminar nasional di PTN besar di Jakarta, tentang perjuangan menegakkan Negara Republik Indonesia pada tahun 2014..
Bahkan ketika itu, salah seorang dari mereka ada yang sinis dengan mengatakan menyatakan: “Organisasi PKI saja pernah berjasa karena pernah melakukan pemberontakan tahun 1926 melawan Belanda. Sementara NU tidak pernah.”..
Pandangan ini juga pernah dianut oleh tokoh-tokoh LIPI. Gus Dur pun dalam sebuah kesempatan pernah juga mengkonfirmasi bahwa sejarah ulama dan kiai memang sudah lama ingin dilenyapkan. Seperti misalnya ketika pada tahun 1990 yang mana ada peringatan 45 tahun peristiwa pertempuran 10 November..
Pada saat itu sempat diumumkan kalau yang menjadi pahlawan besar dalam peristiwa itu adalah dari golongan tertentu. Dan mereka itu adalah orang-orang terpelajar yang berpendidikan tinggi. Sejurus kemudian nama-nama mereka pun muncul tersebar di televisi, koran, dan majalah..
Kenyataan ini membuat beberapa tokoh NU kecewa. “Itu ceritanya, 10 November yang berjasa itu harusnya Kyai Hasyim Asy'ari dan para kiai. Kok bisa yang jadi pahlawan itu wong-wong sosialis?" begitu komentar Nyai Sholihah, ibu Gus Dur..
Dari situlah Gus Dur diminta untuk klarifikasi. Lalu kemudian beliau meminta klarifikasi dengan menemui tokoh-tokoh tua dan senior di kalangan kelompok sosialis, mengenai peristiwa 10 November. Sambil ketawa-ketawa mereka pun menjawab: “Yang namanya sejarah dari dulu kan selalu berulang, Gus. Bahwa sejarah sudah mencatat, orang bodoh itu makanannya orang pintar!”..
“Yang berjasa orang bodoh, tapi yang jadi pahlawan wong pinter. Itu biasa, Gus” katanya lagi kepada Gus Dur. Gus Dur pun lalu marah betul dibegitukan. Karena ia merasa sampai tahun 90-an, NU masih dinganggap bodoh oleh mereka. Lalu atas dasar itu, maka pada tahun 1991 Gus Dur pun kemudian melakukan kaderisasi besar-besaran di kalangan anak muda NU..
Ketika itu anak-anak santri dilatih mengenal analisis sosial (ansos) dan teori sosial, filsafat, sejarah, geopolitik, dan geostrategi. Semua diajarkan dengan harapan supaya tidak lagi dianggap bodoh. Dan itu kemudian berkembang hingga kini. “Saya termasuk yang ikut pertama kali kaderisasi itu, karena itu saya agak faham,” kata Dr. H. Agus Sunyoto..
Saat penulis sejarah Indonesia menyatakan kalau fatwa dan resolusi jihad itu tidak pernah ada, maka Dr. H. Agus Sunyoto justru menemukan fakta yang sebaliknya lewat tulisan sejarawan Amerika, Frederik Anderson. Karena dalam tulisannya tentang penjajahan Jepang di Indonesia selama 1942-1945, ia menulis begini:
Pada 22 Oktober 1945 pernah ada resolusi jihad yang dikeluarkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Surabaya. Tanggal 27 Oktober, Koran Kedaulatan Rakyat juga memuat lengkap resolusi jihad. Pun begitu juga Koran Suara Masyarakat di Jakarta, yang juga memuat informasi tersebut..
Jadi sesungguhnya peristiwa resolusi jihad itu ada, sekalipun orang Indonesia tidak mau menulisnya. Karena mereka menganggap NU yang mengeluarkan fatwanya itu adalah sebagai golongan lapisan bawah. Dan ini membuktikan kalau sejarah bangsa ini sudah dikebiri..
Selanjutnya untuk membuktikan fakta ini, maka kemudian dokumen-dokumen lama yang sebagian besar berbahasa Belanda, Inggris, Perancis, Jepang, dan sebagainya, dibongkar. Tujuannya adalah untuk melihat kronologis cerita yang sebenarnya terjadi pada saat itu..
Patahlah semua anutan doktor sejarah yang menyatakan NU tidak punya peran apa-apa terhadap kemerdekaan.
Ketika Indonesia pertama kali merdeka 1945, kita tidak punya tentara. Baru dua bulan kemudian ada tentara pada sekitar bulan Agustus dan September. Lalu pada 5 Oktober dibentuklah tentara keamanan rakyat (TKR). Kemudian pada tanggal 10 Oktober, diumumkanlah jumlah tentara TKR meski hanya di wilayah Jawa saja..
Ternyata TKR di Jawa itu jumlahnya ada 10 divisi. Dan dalam setiap 1 divisi isinya 10.000 prajurit, yang tererdiri atas 3 resimen dan 15 batalyon. Itu artinya TKR secara keseluruhan jumlahnya ada 100.000 pasukan. Dan untuk diketahui juga kalau TKR ini adalah cikal bakal TNI..
Sementara itu komandan divisi pertama TKR adalah bernama Kolonel KH. Sam’un, yang merupakan pengasuh pesantren di Banten. Pun begitu juga di bagian komandan divisi ketiga juga masih dipimpin oleh seorang kiai, yakni kolonel KH. Arwiji Kartawinata (Tasikmalaya). Bahkan sampai tingkat resimen, masih dipimpin oleh seorang kiai..
Fakta lain juga menyebutkan kalau Resimen 17 dipimpin oleh Letnan Kolonel KH. Iskandar Idris. Lalu Resimen 8 dipimpin Letnan Kolonel KH. Yunus Anis. Terus di batalyon juga banyak komandan yang diisi oleh para kiai..
Seperti Komandan batalyon TKR Malang misalnya, yang dipimpin oleh Mayor KH. Iskandar Sulaiman yang saat itu menjabat Rais Suriyah PCNU Kabupaten Malang. Dan semua data ini, diambil dari dokumen arsip nasional, yang ada di Sekretariat Negara dan TNI..
Akan tetapi ironisnya semua data itu tidak ada di buku bacaan anak SD/SMP/SMA. Seolah peran kiai itu tidak pernah ada. Bahkan KH. Hasyim Asy'ari yang ditetapkan pahlawan nasional oleh Bung Karno pun, tidak ditulis. Jadi jasa para kiai dan santri memang dulu disingkirkan betul dari sejarah berdirinya Republik Indonesia ini..
Padahal waktu itu Indonesia baru berdiri. Sementara di lain pihak tidak ada uang untuk membayar tentara. Jadi memang pada saat itu hanya para kiai dengan santri-santri yang menjadi tentara dan mau berjuang sebagai militer tanpa bayaran. Dan hanya para kiai juga dengan tentara-tentara Hizbullahnya, yang mau berkorban nyawa tanpa dibayar..Sampai sekarang pun, NU masih punya tentara swasta namanya Banser, yang juga tidak dibayar..
Tentara itu baru menerima bayaran pada sekitar tahun 1950. Sebelumnya selama dari tahun 1945 sampai perjuangan di tahun 50-an, tidak ada tentara yang dibayar oleh negara..
Kalau mau sedikit berpikir, pertempuran 10 November 1945 di Surabaya itu adalah peristiwa paling aneh dalam sejarah. Kenapa? Karena kok bisa ada pertempuran besar yang terjadi setelah perang dunia selesai 15 Agustus 1945..
Sebelum pertempuran 10 November, ternyata memang ada perang selama 4 hari di Surabaya, yakni 26, 27, 28, 29 Oktober 1945. Namun kok ‘ujug-ujug’ muncul perang 4 hari ini ceritanya bagaimana? Jawabnya karena sebelum 26 Oktober Surabaya bergolak. Dan itu setelah adanya fatwa Resolusi Jihad dari KH. Hasyim Asy'ari pada tanggal 22 Oktober, yang kini diperingati sebagai Hari Santri..
Tentara Inggris sendiri aslinya tidak pernah berpikir akan berperang dan bertempur dengan penduduk Surabaya. Perang selesai kok. Begitu pikirnya. Tapi karena masyarakat Surabaya terpengaruh dengan fatwa dan resolusi jihad itu, mereka pun siap menyerang Inggris, yang waktu itu mendarat di Surabaya. Dan sejarah inilah yang selama ini ditutupi..
Jika resolusi jihad ditutupi, orang yang membaca sekilas peristiwa 10 November akan menyebut tentara Inggris ‘ora waras’. Ngapain ngebom kota Surabaya tanpa sebab? Tapi kalau melihat rangkaian ini dari resolusi jihad, baru masuk akal. “Oya, marah mereka karena jenderal dan pasukannya dibunuh arek-arek Bonek Suroboyo”..
Fatwa Jihad muncul karena Presiden Soekarno meminta fatwa kepada PBNU pada saat itu: apa yang harus dilakukan warga Negara Indonesia kalau diserang musuh mengingat Belanda ingin kembali menguasai negara kita..
Bung Karno juga menyatakan bagaimana cara agar Negara Indonesia diakui oleh dunia. Karena sejak diproklamasikan pada 17 Agustus dan dibentuk 18 Agustus, tidak ada satu pun negara di dunia yang mau mengakui..
Oleh dunia, pada saat itu Indonesia diberitakan sebagai negara boneka bikinan Jepang. Bukan atas kehendak rakyat. Itu artinya Indonesia disebut sebagai negara yang tidak dibela rakyat. Kemudian Fatwa dan Resolusi Jihad itupun lalu dimunculkan oleh PBNU melalui KH. Hasyim Asy'ari..
Selanjutnya gara-gara itu, Inggris yang mau datang 25 Oktober tidak diperbolehkan masuk Surabaya karena penduduk Surabaya sudah siap berperang. Namun ternyata pas di sore hari, Gubernur Jawa Timur mempersilahkannya: “Silahkan Inggris masuk tapi di tempat yang secukupnya saja”..
Setelah itu ditunjuklah beberapa lokasi, dan lalu kemudian mereka masuk. Namun pada tanggal 26 Oktober, ternyata Inggris malah membangun banyak pos-pos pertahanan dengan karung-karung pasir yang ditumpuk dan diisi dengan senapan mesin..
“Lho, ini apa maunya Inggris? Kan sudah tersiar kabar luas kalau Belanda akan kembali menguasai Indonesia dengan membonceng tentara Inggris,” begitu kata arek-arek Suroboyo pada saat itu..
Selanjutnya pada 26 Oktober sore hari, pos pertahanan itu diserang massa. Sejurus dengan itu, penduduk Surabaya dari kampung-kampung pun keluar ‘nawur’ untuk pasukan Inggris. “Ayo ‘tawur..tawuran...!”..
Para pelaku mengatakan, kalau itu bukan perang tetapi tawuran. Kenapa? Karena nggak ada komandannya, alias tidak ada yang memimpin. “Pokoke wong krungu jihad.. jihad… Mbah Hasyim.. Mbah Hasyim…”. Konon kala itu berduyun-duyun arek-arek Suroboyo pada keluar rumah semua dan langsung tawur sambil teriak ‘Allahu Akbar’ dan itu berlangsung pada 27 Oktober..
Setelah itu mereka bergerak karena seruan jihad dari Mbah Hasyim yang disiarkan lewat langgar-langgar, masjid-masjid, dan speaker-speaker. Lalu pada 28 Oktober tentara pun ikut arus arek-arek Suroboyo, dengan ikut berkelahi dengan Inggris. Dan seketika massa langsung dipimpin oleh tentara. Dalam pertempuran ini, diperkirakan 1000 lebih tentara Inggris mati dibunuh..
Tapi tentara tidak mau mengakui karena Indonesia meski sudah merdeka, belum ada yang mengakuinya. Kenapa? Karena itu jadi urusan besar tingkat dunia jika ada kabar tentara Indonesia membunuh Inggris. Intinya tentara tidak mau ikut campur. Di lain pihak negara juga belum ada yang mengakui kalau sudah klaim bunuh tentara Inggris. Sebab itu semua ikhtiyar arek-arek Suroboyo..
Pada 29 Oktober pertempuran itu masih terus terjadi. Inggris pun akhirnya mendatangkan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta untuk mendamaikan. Dan pada 30 Oktober ditandatanganilah kesepakatan damai dengan tidak saling menembak. Waktu itu yang tanda tangan Gubernur Jawa Timur juga..
Meski sudah ada kesepakatan damai, tapi nyatanya massa kampung tidak mau. Itu dibuktikan ketika pada 30 Oktober seorang komandan tentara Inggris yang bernama Brigadir Jenderal Mallaby, dibunuh oleh arek-arek Suroboyo dengan mati yang mengenaskan..
Konon orang yang melakukannya adalah seorang pemuda Ansor. Ceritanya dia itu ditembak dan mobilnya digranat di Jembatan Merah. Dan sejarah kematian Mallaby ini tidak pernah diakui oleh Inggris. Ada yang menyebut Mallaby mati dibunuh secara licik oleh Indonesia. Aneh, jenderal mati tapi disembunyikan penyebabnya karena malu..
Inggris marah betul atas tewasnya Mallaby. Masa negara kolonial kalah? Begitu fikirnya. Walau begitu, mereka juga merasa malu dan bingung. Perang sudah selesai, tapi pasukan Inggris kok diserang dan jenderalnya dibunuh. Apa ini maksudnya?
“Kalau sampai tanggal 9 Nopember jam 6 sore pembunuh Mallaby tidak diserahkan, dan tanggal itu orang-orang Surabaya masih yang memegang senjata dan tidak menyerahkannya kepada tentara Inggris, maka tanggal 10 Nopember jam 6 pagi Surabaya akan dibombardir lewat darat, laut, dan udara," begitu amuk jenderal tertinggi Inggris pada saat itu..
Selanjutnya datanglah tujuh kapal perang langsung ke Pelabuhan Tanjung Perak. Pun meriam Inggris sudah diarahkan ke Surabaya. Sejurus dengan itu, diturunkan pula meriam Howidser yang khusus untuk menghancurkan bangunan..
Tak lupa satu skuadron pesawat tempur dan pesawat pengebom juga siap dipakai. Intinya Surabaya kala itu memang mau dibakar habis karena Inggris marah kepada pembunuh Mallaby..
Lalu pada 9 November jam setengah empat sore, Mbah Hasyim yang baru pulang usai Konferensi Masyumi di Jogja sebagai ketua, mendengar kabar arek-arek Suroboyo sedang diancam Inggris..
“Fardhu a'in bagi semua umat Islam yang berada dalam jarak 94 kilometer dari Kota Surabaya untuk membela Kota Surabaya.” begitu intruksi beliau pada saat itu. Dan ukuran 94 kilometer itu adalah jarak dibolehkannya meng-qoshor dan men-jamak salat..
Selanjutnya masyarakat dari wilayah Sidoarjo, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, wilayah Mataraman, Mojokerto, Malang, Pasuruan, Jombang datang semua karena dalam jarak radius 94 kilometer. Sementara itu dari Kediri, Lirboyo datang dan dipimpinlangsung oleh Kyai Mahrus..
Intinya seruan Mbah Hasyim ini langsung disambut luar biasa oleh penduduk sekitar pada saat itu. Bahkan Cirebon yang lebih dari 500 kilometer pun, datang ke Surabaya untuk ikut seruan jihadnya Mbah Hasyim..
Bahkan konon anak-anak kecil sampai dengan orang-orang yang dari lintas agama juga ikut berperang. Seperti misalnya orang Konghucu, Kristen, dan Budha semuanya pada ikut berjihad pada saat itu..
Oh ya selain Mallaby, yang juga terbunuh dalam pertempuran itu adalah Brigadir Jendral Loder Saimen. Benar-benar luar biasa pengorbanan arek-arek Surabaya ini dan berikut para kiai dan santrinya pada waktu itu. Namun sayangnya di kemudian hari, beberapa pihak seperti enggan mengakui sejarah dan peristiwa ini..
Akan tetapi untungnya semua itu berubah tatkala hari santri nasional (HSN) mulai dicetuskan dan diresmikan pada tahun 2015 lalu. Karena sejak saat itu, masyarakat jadi tahu kalau fatwa dan Resolusi Jihad dari KH. Hasyim Asy'ari memang pernah ada..
Dan dengan moment peringatan HSN pula kita sejatinya jadi tahu, bahwa sesungguhnya jasa para kiai dan santri pada masa penjajahan dulu benar-benar nyata. Jadi memang HSN itu sejatinya perlu ada dan diperingati, mengingat jasanya untuk negeri ini tiada tara..
Oke demikian informasi yang bisa kami bagikan pada kesempatan kali ini. Semoga bisa bermanfaat dan mohon maaf apabila ada salah-salah kata atau kalimat yang kami buat di tulisan ini..
Sumber: Dikutip dari uraian KH. Dr. Agus Sunyoto saat menghadiri bedah buku "Fatwa dan Resolusi Jihad" di Pondok Lirboyo, 3 November 2017. Namun demi untuk kepentingan pembaca, beberapa diantaranya kami edit dengan tanpa menghilangkan esensinya.

