Berapakah Jumlah Macam Alam Menurut Para Ulama Salaf?
ilustrasi gambar oleh pixabay.com
1. Al Muqotil bin Hayyan pernah berkata bahwa jumlah alam itu mencapai 8.000 macam. Dan diantara itu, separuhnya di daratan dan separohnya lagi di lautan..
2. Ad Dlohhak pernah berkata bahwa jumlah alam mencapai 600 macam. Yang mana 300 macam adalah berupa makhluk-makhluk yang telanjang dan tidak mengenal Tuhan dan yang 300 lagi berupa alam kehidupan bagi makhluk yang sudah mengenal pakaian dan mengenal Tuhan..
3. Ibnul Musayyab pernah berkata bahwa Allah SWT memiliki 1.000 jenis alam, dengan rincian 600 berada di lautan dan 400 berada di daratan..
4. Ibnul Munabbih pernah berkata bahwa jumlah alam mencapai 18.000 macam, yang masing-masing bentuk bangunannya serta luasnya, bagaikan hamparan padang sahara..
Perkataan Ka'bul Akhbar ini, senada dengan apa yg disampaikan oleh Syeh Abu Ishak Ibrahim Al Andalusi dalam kitab Hawasyi syarah muqoddimah al allamah As-Sanusi yang dinukil dari Syeh Ahmad bin Abdurrahman bin Kawar. Ketika itu beliau sempat ditanyai tentang kekuasaan Allah dan makhluk-Nya, dan lalu beliau menjawab :
"Di langit, Allah memiliki samudera yang pasirnya terus menerus mengalir sejak pertama kali Allah menciptakan langit dan bumi, sebagaimana angin di musim kemarau. Lalu pasir tersebut terus mengalir dan berjalan dari mana dan entah kemana. Dan perjalanannya pun tidak akan pernah berhenti sampai hari kiamat tiba"..
"Pada setiap butir pasir tersebut, Allah memiliki sebuah kehidupan dunia seperti dunia yang kalian sedang jalani saat ini. Dan ini termasuk juga perjalanan waktu yang mencakup siang dan malam yang berujung pada kehancuran kiamat, dihadapkan pada timbangan amal, berjalan di bentangan jembatan Shirotol Mustaqim dan fase memasuki surga atau neraka."
*Dalam riwayat lainnya terdapat tambahan: "Kalau surga dan neraka itu sesungguhnya bukanlah surga dan neraka yang tercantum dalam Al-Qur'an."
6. Syeh Mustofa Al Bakri pernah berkata: "Beberapa ahlul mukasyafah bercerita kepadaku bahwa Allah SWT itu memiliki sebuah dunia, yang dimana makhluk paling lemah di dunia ini menjadi paling kuat di dunia sana, dan makhluk paling kuat di dunia ini menjadi makhluk paling lemah di dunia tersebut. Seperti misalnya seekor kambing dapat mengalahkan seekor serigala, dan seekor kelinci dapat mengalahkan seekor harimau. Dan begitu seterusnya. Maha suci Allah yang maha luas lagi maha mengetahui."..
Wallohu a'lam, semoga bisa bermanfaat..
Mungkin sedari kecil kita sudah tahu, kalau jumlah alam itu seluruhnya ada 4 macam. Ke-4 macam alam itu diantaranya adalah alam kandungan, alam dunia, alam barzakh, dan alam akhirat. Dan kesemuanya ini akan kita arungi dan kita jalani sebagai insan ciptaan Allah SWT..
Akan tetapi tahukah anda, jika sejatinya jumlah alam itu tak terbatas cuma 4 saja. Dan ini berdasarkan pendapat dari beberapa para ulama salaf. Bahkan ada yang berpendapat kalau jumlahnya itu bisa ratusan hingga mencapai ribuan lho..
Lalu ulama mana sajakah yang punya pendapat lain tentang jumlah alam ini? Dinukil dari kitab As-Safinah Al-Qodiriyah, setidaknya ada enam ulama salaf yang pernah berpendapat terkait masalah jumlah alam ini. Dan berikut ini adalah penjelasannya:
1. Al Muqotil bin Hayyan pernah berkata bahwa jumlah alam itu mencapai 8.000 macam. Dan diantara itu, separuhnya di daratan dan separohnya lagi di lautan..
2. Ad Dlohhak pernah berkata bahwa jumlah alam mencapai 600 macam. Yang mana 300 macam adalah berupa makhluk-makhluk yang telanjang dan tidak mengenal Tuhan dan yang 300 lagi berupa alam kehidupan bagi makhluk yang sudah mengenal pakaian dan mengenal Tuhan..
3. Ibnul Musayyab pernah berkata bahwa Allah SWT memiliki 1.000 jenis alam, dengan rincian 600 berada di lautan dan 400 berada di daratan..
4. Ibnul Munabbih pernah berkata bahwa jumlah alam mencapai 18.000 macam, yang masing-masing bentuk bangunannya serta luasnya, bagaikan hamparan padang sahara..
5. Ka'bul Akhbar pernah berkata bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menghitung jumlah alam kecuali Allah SWT sendiri. Beliau berpendapat demikian karena berdasarkan Al-Qur'an surat Al-Muddatsir ayat 31 yang artinya: "Dan tidak ada yg mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri."..
Perkataan Ka'bul Akhbar ini, senada dengan apa yg disampaikan oleh Syeh Abu Ishak Ibrahim Al Andalusi dalam kitab Hawasyi syarah muqoddimah al allamah As-Sanusi yang dinukil dari Syeh Ahmad bin Abdurrahman bin Kawar. Ketika itu beliau sempat ditanyai tentang kekuasaan Allah dan makhluk-Nya, dan lalu beliau menjawab :
"Di langit, Allah memiliki samudera yang pasirnya terus menerus mengalir sejak pertama kali Allah menciptakan langit dan bumi, sebagaimana angin di musim kemarau. Lalu pasir tersebut terus mengalir dan berjalan dari mana dan entah kemana. Dan perjalanannya pun tidak akan pernah berhenti sampai hari kiamat tiba"..
"Pada setiap butir pasir tersebut, Allah memiliki sebuah kehidupan dunia seperti dunia yang kalian sedang jalani saat ini. Dan ini termasuk juga perjalanan waktu yang mencakup siang dan malam yang berujung pada kehancuran kiamat, dihadapkan pada timbangan amal, berjalan di bentangan jembatan Shirotol Mustaqim dan fase memasuki surga atau neraka."
*Dalam riwayat lainnya terdapat tambahan: "Kalau surga dan neraka itu sesungguhnya bukanlah surga dan neraka yang tercantum dalam Al-Qur'an."
6. Syeh Mustofa Al Bakri pernah berkata: "Beberapa ahlul mukasyafah bercerita kepadaku bahwa Allah SWT itu memiliki sebuah dunia, yang dimana makhluk paling lemah di dunia ini menjadi paling kuat di dunia sana, dan makhluk paling kuat di dunia ini menjadi makhluk paling lemah di dunia tersebut. Seperti misalnya seekor kambing dapat mengalahkan seekor serigala, dan seekor kelinci dapat mengalahkan seekor harimau. Dan begitu seterusnya. Maha suci Allah yang maha luas lagi maha mengetahui."..
Wallohu a'lam, semoga bisa bermanfaat..
Oke demikian ilmu dan informasi yang bisa kami bagi pada kesempatan ini. Sekali lagi, semoga apa yang kami sampaikan ini, benar-benar bisa membawa manfaat untuk anda. Tak lupa kami pun memohon maaf, apabila ada kesalahan dan atau kekeliruan yang kami buat pada postingan yang kami tulis ini. Maklum, kami pun masih merasa awam dalam belajar agama..
Keterangan: Artikel asli ditulis oleh Ust. Nur Hamzah, dengan beberapa sedikit perubahan
FYI: Beliau adalah aktivis dakwah dari kalangan aswaja dan NU di Facebook
