Wali Songo Sebagai Makelar Budaya Aktif
ilustrasi gambar 9 tokoh Wali Songo (sumber gambar: tirto.id)
Wali Songo Sebagai Makelar Budaya Aktif
Beberapa waktu lalu sebuah media online memuat tulisan bertajuk “NU, NKRI dan Khilafah”. Penulis artikel menyebut penolakan nahdliyyin (pengikut Nahdlatul Ulama) terhadap konsep khilafah sebagai sikap ahistoris lantaran mengingkari sejarah..
Pasalnya masuknya Islam ke tanah Jawa tidak bisa dilepaskan peran Sultan Muhammad I dari Khilafah Utsmaniyah yang secara bergelombang mengutus dai-dai transnasional ke tanah Jawa untuk menyebarkan Islam. Dan jaringan dai tersebut kemudian terkenal dengan sebutan Wali Songo..
Tak ada yang salah dengan data tersebut. Namun kesalahan fatalnya adalah pada kesimpulan si penulis yang secara implisit menyatakan, “Jika orang NU yang selama ini memuliakan para wali (dengan menziarahi dan mengirim doa), mestinya juga menerima khilafah. Soalnya begitu besar jasa khilafah atas kehadiran wali di Indonesia.”..
Lalu apa hubungannya dengan sebab akibat tersebut? Logikanya; apakah karena saya mencintai istri saya, lalu saya juga harus mengikuti apa saja yang diinginkan oleh mertua saya, meski itu tidak cocok untuk kehidupan rumah tangga saya? Tentu saja tidak..
Ah tapi sudah lah! Karena penulis artikel sudah memaparkan fakta sejarah yang keliru, maka saya pun akan menunjukkan bukti sejarah lain buat sebagai pembanding..
Pertama, Wali Songo meski diutus oleh rezim khilafah Turki Utsmany, namun tidak pernah memerintahkan agar kerajaan-kerajaan Islam di Jawa yang mereka dirikan untuk tunduk patuh pada instruksi khalifah sebagai pucuk pemimpin pemerintahan Islam kala itu..
Itu dikarenakan relasi yang dibangun bersifat kemitraan belaka, dan bukan instruksional. Memang ada data sejarah yang menunjukkan bahwa salah satu utusan khalifah Turki Utsmany pernah datang ke kerajaan Demak untuk memberikan gelar Sultan. Namun toh tanpa diberi gelar itu pun, Raja Demak tetap diakui sebagai pemimpin oleh masyarakat Jawa..
Kedua metode dakwah Wali Songo sangat kreatif, berwatak dialogis, akomodatif, dan adaptif dengan masyarakat lokal. Dan para wali juga dalam tidak tergesa-gesa menghakimi tradisi yang berlangsung di Jawa sebagai takhayyul, bid’ah dan khurafat. Sebaliknya mereka malah mengisi celah kosong dalam setiap ritus tradisi dengan ajaran-ajaran Islam..
Pada titik ini saja cara Wali Songo sudah jauh berbeda dengan metode para pendakwah khilafah. Yang mana mereka terkadang mudah sekali menganggap kelompok yang berseberangan dengannya sebagai orang-orang bodoh, sesat, atau bahkan kafir..
Dan para penyeru khilafah mutakhir ini juga sering sekonyong-konyok “berdakwah” di level politik (non struktural) dengan memaksakan formalisasi syariat Islam dalam kehidupan bernegara serta membangkitkan kembali sistem khilafah sebagai solusi. Padahal Wali Songo mengawali dan menjalankan dakwahnya justru di aras kebudayaan..
Selain itu tidak ada proses arabisasi dalam dakwah Wali Songo. Saya yakin walisongo tidak pernah menggunakan kata akhi, ikhwan, akhwat, ana, antum (kata-kata sapaan yang akrab digunakan oleh para pengusung ideologi khilafah mutakhir), dalam menyapa warga. Sebaliknya para wali beradaptasi dengan kebiasaan dan kondisi lokal..
Seperti misalnya seorang Sunan Kudus yang saking menaruh rasa hormatnya pada tradisi Hindu (yang kala itu banyak dipeluk oleh warga Kudus), mendirikan masjid dengan arsitektur campuran Hindu-Islam, dan melarang masyarakat di sana menyembelih sapi. Itu dikarenakan sapi adalah hewan yang disakralkan oleh pemeluk Hindu..
Terus Sunan Bonang menggubah Suluk Wijil dan tembang Tombo Ati (yang masih sering dinyanyikan orang hingga kini). Atau musik Gamelan Jawa yang dimasuki rebab dan bonang..
Sementara itu Sunan Kalijaga menggunakan antara lain dengan wayang kulit dan tembang suluk sebagai sarana dakwahnya. Dan tembang suluk Ilir-Ilir dan Gundul-gundul Pacul disinyalir sebagai hasil dari karyanya..
Setelah dakwah kebudayaan menuai sukses, barulah para wali beranjak ke dunia politik dengan mendirikan kerajaan-kerajaan di daerahnya. Dan pola semacam ini sangat efektif dalam menyebarkan Islam di masyarakat. Ini juga menegaskan bahwa dengan perantara seni budaya, para ulama mampu melakukan penetrasi secara damai..
Inilah yang menurut Almarhum KH. Cholil Bisri (salah seorang tokoh NU), dalam sebuah ceramahnya pada sekian tahun lalu. Yang mana kala itu beliau mengatakan bahwa dengan cara seperti itulah yang membuat Islam di Indonesia jadi terjaga eksistensinya..
Berbeda sekali misalnya dengan Islam di Spanyol yang kini runtuh tak bersisa. Pasalnya Islam di sana (tanah Andalusia) didakwahkan dengan cara merebut kekuasaan lebih dahulu (pendirian khilafah Abbasiyah) dan sempat didahului juga dengan pertikaian yang berdarah-darah..
Bahkan boleh dibilang kalau Wali Songo ini bisa disebut sebagai makelar budaya aktif. Karena perannya yang selain sebagai juru dakwah (makelar ajaran Islam), juga sebagai agen yang mampu menyeleksi dan mengarahkan nilai-nilai budaya yang bisa memberdayakan masyarakat dan sekaligus membangun kebudayaan baru berdasarkan hasil-hasil seleksi kebudayaan..
Dan teori ini juga sekaligus menyempurnakan teori cultural broker yang sempat dilansir oleh antropolog Clifford Geertz..
Sementara itu dalam konteks perdebatan soal khilafah, pada zaman itu saja di mana dinasti Turki Utsmany masih tegak berdiri, wacana khilafah sudah tidak lolos dari “saringan” Wali Songo. Ya ibarat perasan kelapa, wacana khilafah ini bukanlah santan melainkan ampas. Sehingga tidak perlu ikut didakwahkan ke masyarakat di nusantara..
Nah, berdasarkan penjelasan dan pemaparan di atas, pertanyaannya sekarang adalah; siapakah yang sebenarnya ahistoris?
Keterangan:
Artikel asli ditulis oleh M. Syafiq Syeirozi, namun dengan beberapa sedikit perubahan
