Sejarah Berdirinya GP Ansor

Sejarah Berdirinya GP Ansor

logo resmi organisasi GP Ansor (sumber: wikipedia.org)


Sejarah Berdirinya GP Ansor


GP Ansor atau Gerakan Pemuda Ansor resmi berdiri sebelum Indonesia Merdeka, tepatnya pada tahun 1934. Sedangkan Barisan Ansor Serbaguna atau Banser resmi berdiri pada tahun 1968. Lalu bagaimanakah sejarah dan awal mula terbentuknya organisasi ini dan anggota "pasukan khusus"nya itu?


Berikut ini adalah cerita dan kisah perjalanan panjangnya organisasi yang juga merupakan salah satu badan otonom (Banom) dari organisasi NU tersebut..


===== ===== ===== ===== ===== ===== ===== ===== ===== =====


Data Arsip kolonial Belanda menyatakan bahwa antara tahun 1800- 900 atau dalam kurun waktu 100 tahun (1 abad), telah terjadi 112 kali pemberontakan kepada penjajah Belanda. Dan dari semua pemberontakan itu, kalangan santri adalah yang terdepan yang di pimpin oleh Kyai tradisional dan guru-guru thoriqoh (benih NU, Ansor dan Banser). Tentu hal ini semakin memperjelas bahwa kultur NU adalah unsur penting dalam proses kemerdekaan Indonesia..


Dan memang kelahiran Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) diwarnai oleh semangat perjuangan, nasionalisme, pembebasan, dan epos kepahlawanan Negara indonesia. Atau dengan kata lain ia terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pasca-Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, pekik kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan..


Oleh karena itu, kisah Laskar Hizbullah, Barisan Kepanduan Ansor, dan Banser (Barisan Serbaguna) adalah sebagai bentuk perjuangan Ansor yang bisa dikatakan nyaris melegenda. Terutama sekali saat perjuangan fisik melawan penjajahan dan penumpasan PKI, yang mana peran Ansor benar-benar sangat menonjol..


Lalu atas dasar tuntutan kebutuhan alamiah itulah dan juga situasi ”konflik” internal, maka kemudian GP Ansor lahir dari rahim Nahdlatul Ulama (NU). Kisahnya berawal dari perbedaan antara tokoh tradisional dan tokoh modernis yang muncul di tubuh Nahdlatul Wathan, organisasi keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan Islam, pembinaan mubaligh, dan pembinaan kader..


Pada akhirnya KH Abdul Wahab Hasbullah yang mewakili tokoh tradisional dan KH Mas Mansyur yang mewakili tokoh modernis, harus menempuh arus gerakan yang berbeda yang ironisnya pada saat itu justru tengah tumbuhnya semangat untuk mendirikan organisasi kepemudaan Islam..


Dua tahun setelah perpecahan itu, pada 1924 para pemuda yang mendukung KH Abdul Wahab (yang kemudian menjadi pendiri NU) membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air). Dan organisasi inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor, setelah sebelumnya mengalami perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO)..


Nama Ansor sendiri merupakan saran KH. Abdul Wahab, seorang “ulama besar” dan sekaligus guru bagi kaum muda saat itu. Nama ini diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah. Harapannya adalah agar ANO dapat mengambil hikmah serta teladan terhadap sikap, perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat predikat Ansor tersebut..


Itu bisa difahami karena Gerakan ANO ini, harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar Sahabat Ansor, yakni sebagi penolong, pejuang dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam. Dan inilah sejatinya komitmen awal yang harus dipegang teguh oleh setiap anggota ANO (GP Ansor)..


Selanjutnya ANO dinyatakan sebagai bagian dari NU, meski secara formal organisatoris belum tercantum dalam struktur organisasi NU sampai tahun 1934. Itu dikarenakan hubungan ANO dengan NU pada saat itu masih bersifat hubungan pribadi antar tokoh saja..


Baru kemudian pada Muktamar NU ke 9 di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain: Ketua H.M. Thohir Bakri, Wakil Ketua Abdullah Oebayd, Sekretaris H. Achmad Barawi dan Abdus Salam..


Kemudian pada masa perkembangannya, khususnya ANO Cabang Malang, sempat mengembangkan organisasi gerakan kepanduan yang disebut Banoe (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama). Seperti misalnya dalam Kongres II ANO di Malang tahun 1937, Banoe menunjukkan kebolehan pertama kalinya dalam baris-berbaris dengan mengenakan seragam yang dipimpin oleh Komandan Moh. Syamsul Islam yang sekaligus juga Ketua ANO Cabang Malang..


Sementara itu instruktur umumnya Banoe Malang sendiri adalah Hamid Rusydi. Dan beliau ini adalah seorang anggota TNI yang berpangkat Mayor. Untuk sekarang nama "Hamid Rusydi" dikenang dan diabadikan sebagai nama salah satu jalan besar di kota Malang..


Terus salah satu keputusan penting lainnya di Kongres II ANO adalah dengan didirikannya Banoe di tiap cabang ANO. Selain itu juga untuk menyempurnakan Anggaran Rumah Tangga (ART) ANO, terutama yang menyangkut soal Banoe..


Selanjutnya pada masa pendudukan Jepang, organisasi-organisasi pemuda diberangus oleh pemerintah kolonial Jepang termasuk ANO. Baru setelah revolusi fisik tahun 1945 - 1949 usai, tokoh ANO yang dari Surabaya yaitu Moh. Chusaini Tiway, mengemukakan ide untuk mengaktifkan kembali ANO..


Ide ini lalu mendapat sambutan positif dari KH. Wachid Hasyim, Menteri Agama RIS (Republik Indonesia Serikat) kala itu. Oleh sebab itu, maka pada tanggal 14 Desember 1949 lahirlah kesepakatan untuk membangun kembali ANO dengan nama baru: Gerakan Pemuda Ansor atau yang disingkat menjadi GP Ansor..


GP Ansor hingga saat ini telah berkembang sedemikan rupa, hingga menjadi organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia yang memiliki watak kepemudaan, kerakyatan, keislaman dan kebangsaan..


Dan hingga saat ini juga organisasi ini telah berkembang pesat dengan telah memiliki 433 Cabang (Tingkat Kabupaten/Kota), yang di bawah koordinasi 32 Pengurus Wilayah (Tingkat Provinsi) hingga ke tingkat desa atau ranting..


Ini belum ditambah dengan kemampuannya mengelola keanggotaan khusus BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) yang memiliki kualitas dan kekuatan tersendiri di tengah masyarakat..


Dan memang di sepanjang sejarah perjalanan bangsa ini, dengan kemampuan dan kekuatannya tersebut GP Ansor sudah memiliki peran strategis dan signifikan dalam perkembangan masyarakat Indonesia..

 
Selain itu GP Ansor juga mampu mempertahankan eksistensi dirinya, mampu mendorong percepatan mobilitas sosial, politik dan kebudayaan bagi anggotanya, serta mampu menunjukkan kualitas peran maupun kualitas keanggotaannya..


Semoga ke depan GP Ansor tetap eksis dalam setiap episode sejarah perjalanan bangsa ini dan tetap menempati posisi dan peran yang stategis dalam setiap pergantian kepemimpinan nasional.. Amiin


*diolah dari berbagai sumber
Posting Komentar