Sejarah Berdirinya Pencak Silat NU (Pagar Nusa)
ilustrasi gambar oleh nu.or.id (edited by zaeabjal17.com)
Sejarah Berdirinya Pencak Silat NU (Pagar Nusa)
Pada lambang Ikatan Pencak Silat NU atau Pagar Nusa, tertulis kalimat "Laa Ghaaliba Illa Billah" yang melingkar di bola bumi dan terletak di bawah trisula. Lafaz itu diusulkan oleh KH Suharbillah, seorang pendekar silat dan salah seorang pendiri Pagar Nusa. Sedangkan arti kalimat tersebut kurang lebih semakna dengan lafadz "La Haula Wa La Quwwata Illa Billah"..
Namun tahukah anda jika awalnya kalimat tersebut berbunyi "La Ghaliba Illallah". Tapi kemudian KH Sansuri Badhawi mengusulkan untuk menggantinya dengan kalimat "La Ghaliba Illa Billah". Dan akhirnya kalimat itulah yang digunakan pada lambang Pagar Nusa sampai dengan sekarang..
Menurut Kiai Suharbillah dengan lafadz tersebut, Pagar Nusa ingin kejayaan Islam di Cordova, Spanyol, tumbuh di Indonesia. Selain itu kalimat ini juga sangat cocok untuk semboyan sebuah perhimpunan bela diri, dengan harapan agar para anggotanya tidak takabur..
Karena dengan lafadz itu, seorang pendekar silat akan berpegang teguh bahwa tidak ada yang mengalahkan seseorang, kecuali hanya karena Allah SWT. Dan dengan slogan itu pula seorang pendekar tidak akan pernah merasa over dosis dalam mencapai sebuah kemenangan. Sebab di atas langit masih ada langit..
Sementara itu Ketua Umum Pagar Nusa 2012-2017 KH Aizzudin Abdurrahman menafsirkan jika lafadz tersebut merupakan sebagai tingkat kepasrahan tertinggi seseorang. Meskipun seseorang sakti, namun tidak boleh merasa sakti, termasuk kepada musuh kita sendiri.
Maksudnya meskipun dia terlihat sakti, tapi ketika tidak dilindungi Allah, maka dia tidak akan berarti apa-apa. Terus masih menurut Gus Aiz, ada juga slogan lain yang sering diungkapkan pendiri dan mahaguru beladiri Pagar Nusa yaitu KH Maksum Jauhari..
Menurutnya seorang pendekar pilih tanding Pagar Nusa akan mempunyai prinsip yaitu “Pantang menantang walau kepada lawan, pantang mundur kalau ditantang. Walaupun begitu slogan tersebut sejatinya tak jauh beda maknanya dengan kalimat "Laa Ghaaliba Illa Billah"..
Sejarah Berdiri dan Para Tokohnya
Menurut Ensiklopedia NU, Pagar Nusa bertugas menggali, mengembangkan, dan melestarikan seni bela diri pencak silat Indonesia. Nama resminya adalah lkatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPS-NU). Namun belakangan Pagar Nusa kemudian membuang kata ikatan, yang akhirnya menjadi Pencak Silat NU. Sedangkan Pagar Nusa sendiri berarti pagarnya NU dan bangsa..
Sementara itu Pagar Nusa sendiri secara resmi dibentuk pada 3 Januari 1986 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Selanjutnya NU mengesahkan pendirian dan kepengurusannya, melalui Surat Keputusan tertanggal 9 Dzulhijjah 1406/16 Juli 1986..
Lahirnya Pagar Nusa berawal dari perhatian dan keprihatinan para kiai NU terhadap surutnya ilmu bela diri pencak silat di pesantren. Padahal pada awalnya pencak silat merupakan kebanggaan yang menyatu dengan kehidupan dan kegiatan pesantren..
Surutnya pencak silat antara lain ditandai dengan hilangnya peran pondok pesantren sebagai padepokan pencak silat. Padahal sebelumnya pondok pesantren merupakan pusat kegiatan ilmu bela diri tersebut..
Seperti misalnya seorang kiai atau ulama pengasuh pondok pesantren, selalu merangkap sebagai ahli pencak silat, khususnya aspek tenaga dalam atau ilmu hikmah yang dipadu dengan ilmu bela diri. Selain itu seorang kiai atau ulama juga sekaligus sebagai seorang pendekar pencak silat..
Faktor lainnya adalah karena tumbuhnya berbagai perguruan pencak silat dengan segala keaneka ragamannya yang berdasarkan segi agama, aqidah, maupun kepercayaannya. Dan perguruan-perguruan itu kadang bersifat tertutup serta saling mengklaim sebagai yang terbaik dan terkuat..
Pada akhirnya para ulama dan pendekar pun merasa gelisah melihat kenyataan tersebut. KH Suharbillah, seorang pendekar dari Surabaya, kemudian menceritakan masalah ini kepada KH Mustofa Bisri di Rembang. Setelah itu mereka lalu menemui KH Agus Maksum Jauhari (Lirboyo) atau Gus Maksum, yang memang dikenal sebagai tokoh ilmu bela diri..
Selanjutnya pada 27 September 1985, mereka kemudian berkumpul untuk bermusyawarah di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Tujuannya adalah untuk membentuk suatu wadah di bawah naungan NU, yang khusus mengembangkan seni bela diri pencak silat..
Musyawarah itu sendiri dihadiri oleh tokoh-tokoh pencak silat dari Jombang, Ponorogo, Pasuruan, Nganjuk, Kediri, Cirebon, dan Kalimantan. Dari hasil musyawarah tersebut, kemudian terbitlah Surat Keputusan Resmi Pembentukan Tim Persiapan Pendirian Perguruan Pencak Silat Milik NU yang disahkan pada 27 Rabi’ul Awwal 1406/ 10 Desember 1985 dan berlaku hingga 15 Januari 1986..
Setelah itu musyawarah berikutnya diadakan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada 3 Januari 1986. Dalam musyawarah ini, para hadirin menyepakati susunan Pengurus Harian Jawa Timur yang merupakan embrio dari Pengurus Pusat organisasi ini. Ketika itu Gus Maksum dipilih sebagai ketua umumnya..
Selanjutnya nama organisasi yang disepakati dalam musyawarah tersebut adalah lkatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama yang disingkat IPS-NU, atau yang belakangan menjadi PSNU. Tapi Ketua PWNU Jawa Timur KH Anas Thohir kemudian mengusulkan agar namanya menjadi Pagar Nusa. Nama “Pagar Nusa" sendiri berasal dan KH Mujib Ridlwan dari Surabaya, yang merupakan putra dari KH Ridlwan Abdullah, sang pencipta lambang NU..
Setelah itu KH Suharbillah kemudian mengusulkan lambang untuk Pagar Nusa, yaitu segi lima yang berwarna dasar hijau dengan bola dunia di dalamnya. Terus di depannya terdapat pita bertuliskan “Laa Ghaliba Illa Billah”, yang artinya ”tiada yang menang kecuali mendapat pertolongan dari Allah”..
Lambang ini juga dilengkapi dengan bintang sembilan dan trisula sebagai simbol pencak silat. Sedangkan kalimat ”Laa Ghaliba Illa Billah” merupakan usul dari KH Sansuri Badawi untuk mengganti kalimat sebelumnya, yaitu kalimat ”Laa Ghaliba Ilallah”..
Langkah berikutnya adalah untuk membentuk susunan pengurus tingkat nasional, PBNU di Jakarta kemudian membuat surat pengantar kesediaanuntuk beberapa orang, untuk ditunjuk menjadi pengurus. Surat ini lalu ditandatangani Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid dan Rais Aam KH Achmad Siddiq..
Selanjutnya Pagar Nusa kemudian mengadakan Musyawarah Nasional atau Munas I di Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Kraksaan, Probolinggo. Dan surat kesediaan ditempati sebagai penyelenggara Munas ditandatangani oleh KH Saifurrizal..
Pada saat itu KH. Saifurrizal juga yang menentukan tanggal pelaksanaan acara tersebut, yaitu 20-23 September 1991. Namun belakangan ternyata tanggal itu bertepatan dengan 100 hari wafatnya beliau. Sehingga pada pas pembukaan acara, terlebih dahulu diadakan tahlilan untuk mendoakan kepergian sang penggagas tanggal acara tersebut..
Selanjutnya pada acara Muktamar NU di Cipasung, Tasikmalaya (1994), Lembaga Pencak Silat NU Pagar Nusa berubah status dari Lembaga menjadi Badan Otonom atau Banom NU. Namun pada acara Muktamar NU di Lirboyo (1999), status Badan Otonom ini kembali berubah menjadi Lembaga..
Setelah itu Munas II Pagar Nusa diadakan di Padepokan IPSI Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, pada 22 Januari 2001. Dan acara ini diikuti perwakilan dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Riau, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. Bahkan Jawa Timur yang merupakan pusat pengembangan PSNU Pagar Nusa, mengikutsertakan perwakilan dari cabang-cabang yang ada di 35 kabupaten/kota se-Jawa Timur dan pondok pesantren..
Pada saat itu, acara yang dibuka oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid ini membahas agenda-agenda seperti berikut ini:
(1) Organisasi: Membahas masalah Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) IPS-NU Pagar Nusa;
(2) Ke-Pasti-an: Membahas masalah Pasti (Pasukan lnti) dan perangkat yang lain yang meliputi seragam dan atributnya, keanggotaan, dan kepelatihan;
(3) Teknik dan Jurus: Membahas, menggali, dan menyempurnakan jurus-jurus yang sudah dimiliki oleh IPS-NU Pagar Nusa yang kemudian didokumentasikan dalam bentuk hard copy (buku) dan soft copy (kaset dan VCD)..
Saat ini Pagar Nusa mempunyai beberapa seragam khusus atau seragam resmi organisasi. Dan seragam tersebut diantaranya adalah:
(1) Seragam Atlet: baju dan celana berwarna hitam dengan bagde IPSI dl dada sebelah kanan dan bagde Pagar Nusa d£ dada sebelah kiri dilengkapi sabuk kebesaran warna hijau yang diikatkan dengan simpul hidup di sebelah kanan;
(2) Seragam Pasukan Inti (Pasti) Putra: kemeja lengan panjang berwarna hitam, celana warna hitam, sepatu hitam PDH dengan memakai atribut yang telah ditentukan;
(3) Seragam Pasukan lnti (Pasti) Putri: pasukan yang dibentuk dan bertugas pertama kali pada acara Istighatsah Nasional PBNU di Lapangan Kodam V Brawijaya Surabaya pada 15 Mei 2003 ini memakai seragam berupa blazer (jas) berwarna hitam, jilbab hitam, celana hitam, dan memakai sepatu PDH berwarna hitam dengan atribut yang telah ditetapkan;
(4) Seragam Pengurus: baju dan celana warna hitam, jas warna putih, berkopiah hitam, dan bersepatu PDH warna hitam;
(5) Seragam Tim Khos: seperti seragam pengurus ditambah dengan simbol khusus; (6) Seragam Kebesaran: jubah warna hitam yang dipakai hanya pada ajang tingkat nasional.
Beberapa tokoh yang pernah menjadi Ketua Umum Pagar Nusa adalah KH Agus Maksum Jauhari, KH Suharbillah, KH Fuad Anwar, KH Aizuddin Abdurrahman. Sedang untuk saat ini Ketua Umumnya adalah H M. Nabil Haroen..
Keterangan: artikel asli ditulis oleh Sayyid Abdullah Alawi. Namun dengan beberapa sedikit perubahan.
