Tidak Ada Kenikmatan Tanpa Perjuangan di Organisasi NU
Tidak Ada Kenikmatan Tanpa Perjuangan di Organisasi NU
Mungkin diantara kita masih ingat dengan apa yang dikatakan bahwa Hadratussyeikh KH. Hasyim Asyari di bawah ini:
"Siapa yang mengurusi NU, maka akan saya anggap santriku. Siapa yang jadi santriku, maka akan saya doakan husnul khatimah beserta keluarganya"..
Pertanyaannya: kira-kira apa makna yang tersirat dari pesan beliau tersebut? Untuk mengetahuinya, mari kita kupas tuntas bersama di thread ini. Namun yang akan kita fokuskan di sini terutama dan yang utama adalah pada poin-poin sebagai berikut:
1). Mengurusi NU
2). Menjadi santri Hadratussyeikh
3). Doa husnul khatimah oleh Hadratussyeikh.
1. Mengurusi NU
Mengurusi NU itu artinya luas. Bukan hanya menjadi "pengurus satruktural NU" saja, tapi menjadi warga NU yang peduli dengan keberadaan NU. Apakah dia itu warga nahdliyin biasa, santri non pesantren, santri pondok pesantren, kyai kampung, kyai langgar, mahasiswa NU, pelajar, pemuda, pegiat dan sebagainya..
Hanya Allah SWT yang tahu bahwa kita itu benar-benar "mengurusi NU" atau tidak, meski nama kita tak tercatat dalam daftar nama di SK kepengurusan NU. Ntah itu di kepengurusan NU tingkat pusat, kepengurusan NU di tingkat daerah (provinsi dan kab/kota), maupun kepengurusan NU di tingkat lembaga atau Banom..
Oleh karena itu, janganlah kita merasa terlepas dengan NU. Dan jangan juga merasa bukan golongan "yang mengurusi NU", cuma semata karena nama kita tidak terdaftar dalam SK legal formal kepengurusan NU di berbagai tingkatan..
Sebab sekali lagi, Hanya Allah-lah yang tahu bahwa kita itu benar-benar "mengurusi NU", walau dengan cara samar-samar, atau merasa tidak terkenal bila dibandingkan dengan yang lain..
2. Menjadi santri Hadratussyeikh adalah kebanggaan tersendiri
Mungkin berbeda dengan fenomena sekarang, yang mana jika ingin menjadi santri salah seorang kyai, kita tinggal mendaftar di ponpes tertentu. Selanjutnya kita membayar biaya pendaftaran, biaya syahriyah dan biaya-biaya lainnya. Setelah itu otomatis sudah menjadi santri kyai tersebut..
Namun hal ini sangat berbeda dengan pola penyantrian di masa lalu, yang mana harus ada ujian lahir, batin dan mental serta spiritual terlebih dahulu. Seperti contohnya bagaimana kisah seorang KH Hasyim Asyari yang ingin menjadi santri Mbah Cholil Bangkalan..
Ketika itu beliau harus mendapatkan ujian berat dulu. Bahkan pernah merasa "seakan" diusir dari pesantren. Namun itu menunjukkan bahwa menjadi santri seorang kyai pada waktu itu adalah sangatlah sulit. Apalagi menjadi seorang santri Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari..
Dengan kata lain, ketika merasa dianggap, diterima dan direstui menjadi santri Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari adalah sebuah kenikmatan yang tiada tara dan anugerah yang sangat luar biasa. Pun begitu juga ketika mengurusi NU, maka akan dianggap otomatis menjadi santri Hadratussyeikh..
3. Husnul khatimah adalah dambaan dan cita-cita semua kaum muslimin.
Wafat dalam keadaan husnul khatimah adalah dambaan dan cita-cita kita sebagai seorang muslimin. Karena husnul khatimah adalah awal dari kebahagiaan yang sejati, kebahagiaan yang hakiki dan kebahagiaan yang abadi di kampung akhirat dan juga sebagai halte terakhir dalam proses perjalanan maha panjang manusia..
Mendapatkan husnul khatimah sangat sulit. Bahkan sangat berat sekali serta tidak semudah kita membalikkan telapak tangan. Bahkan meski sampai "direwangi" sekalipun dengan berjibaku dalam berbagai macam ibadah, baik ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah..
Karena belum tentu seseorang yang awalnya kelihatan rajin ibadah, kelak ketika menjelang ajal bisa husnul khatimah. Pun belum tentu juga seseorang yang kelihatan ahli maksiat, kelak wafatnya tidak dalam keadaan husnul khatimah..
Oleh sebab itu, kita tidak boleh sombong dengan amal ibadah kita. Seperti misalnya merasa itu amal dari usaha kita pribadi. Padahal sejatinya itu hanya anugerah dari Allah SWT dan bukan usaha kita secara mutlak..
Kita juga dilarang menvonis seseorang yang melakukan kemaksiaatan, dengan menvonis mereka pasti su'ul khatimah dan ahli neraka. Soalnya kita tidak tahu "wolak-walike ati" kita dan tidak tahu akhir kehidupan seseorang kelak, apakah husnul khatimah atau justru su'ul khatimah..
Lalu apakah dengan "hanya" mengurusi NU saja kita sudah dijamin akan menjadi husnul khatimah, sebagaimana pesan dan doa Hadratussyeikh? Tentu saja doa beliau itu bukanlah doa sembarangan. Karena beliau termasuk "min auliyaillah" atau wali Allah. Jadi Insya Allah doa hadratussyeikh itu manjur dan terqabul..
Ini juga berarti mengurusi NU itu ibarat seperti memegang bara api. Dipegang panas, dilepas bara terlepas. Padahal sebenarnya kita perlu bara beserta apinya. Jadi memang mengurusi NU itu (baik menjadi pengurus struktural ber SK maupun mengurusi secara kultural non SK) sangatlah berat..
Seperti misalnya selalu mendapat tekanan baik dari kiri kanan, dari depan belakang dan atau dari atas bawah. Mengurusi NU juga selalu ada cobaan, hambatan dan rintangan. Jadi ya memang benar-benar penuh perjuangan dalam mengurus NU itu..
Meskipun demikian, tapi kompensasinya (imbalannya) adalah sesuatu yang sangat besar yaitu husnul khatimah, sebagaimana yang sudah dijanjikan oleh Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari. Dan pastinya kita semua berharap mendapatkannya kelak pada pas waktunya..
Ini berbeda jika dibandingkan dengan menjadi pengurus organisasi lain. Boleh jadi mereka seakan sejahtera, enak hidupnya, nyaman dan aman. Namun mereka tidak mendapatkan doa husnul khatimah dari para pendirinya, walau cuma sekedar wasiat..
Sekali lagi, menjadi pengurus NU itu memang perlu perjuangan. Karena sejak dari era kolonial sampai dengan era milenial saat ini, menjadi pengurus NU itu selalu saja ada ujian, cobaan, hambatan dan atau rintangan yang menghadangnya..
Namun jangan kuatir! Doa dari hadratussyeikh pun juga dari para wali Allah, para ulama, dan para kiai (baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat) akan senantiasa mengiringi bagi siapa saja yang mengurusinya. Karena NU itu Aswaja yang sesungguhnya dan NU itu adalah Islam yang sebenarnya..
Oleh sebab itu, marilah kita mengurusi NU dengan tulus dan ikhlas. Ntah itu menjadi pengurus struktural formal, maupun mengurusi dengan cara kultural fungsional. Keduanya sama baiknya. Hanya memang kalau menjadi pengurus NU yang kategori terakhir, insya Allah bisa lebih ikhlas karena tidak ada godaan politik praktisnya..
Anggaplah segala hambatannya itu sebagai pupuk atau jamu, dan jangan dianggap sebagai beban atau musibah. Atau bisa juga ini sebagai penyemangat, dalam rangka berjuang menggapai husnul khatimah beserta keluarga kita (anak istri dan keluarga besar lainnya)..
Dan terakhir, mari kita sama-sama yakin, bahwa kelak di padang mahsyar atau di kampung akhirat nanti, kita ikut rombongan Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari, rombongan dengan bendera NU..
Untuk itu, ayo kita selalu "gandolan sarungé kiai NU". Tak lupa kami pun mendoakan; semoga kita semua kelak diwafatkan dalam Husnul khatimah. Aamiin Allahumma Aamiin, Aamiin Yaa Robbal'Alamiin..
Keterangan: Artikel asli dtulis oleh A. A. Hamizan, dengan beberapa sedikit perubahan
