Asal Usul Sebutan Kyai di Masyarakat

Asal Usul Sebutan Kyai di Masyarakat

ilustrasi gambar oleh gontor.ac.id (edited by zaeabjal17.com)


Asal Usul Sebutan Kyai di Masyarakat


Dalam masyarakat Indonesia khususnya di pulau Jawa, istilah “kyai” sangat dikenal dari zaman dulu hingga saat ini. Istilah ini merupakan penulisan dalam aksara latin Jawa Baru, yang dalam bahasa Indonesia kemudian dibakukan menjadi “kiai”..


Akan tetapi bagaimana sih sebenarnya awal kemunculan istilah ini? Hingga kemudian ia berkembang menjadi sebutan gelar bagi ulama agama Islam. Khususnya yang ada di Pulau Jawa, sebagaima yang berlaku secara umum sekarang ini..


Untuk menjawab pertanyaan di atas, berikut ini kami akan menjelaskan tentang asal-usulnya..


Dalam naskah kuno, kata “kyai” ternyata tertulisnya “kyayi”. Salah satu contohnya adalah mertua Ranggalawe tertulis bernama “Kyayi Geng ing Palandongan”..


Kata “kyayi” di situ kemungkinan besar merupakan gabungan dari kata “ki” dan “ayi”. Dan berdasarkan hukum sandi, bunyi “i” bertemu “a” kemudian menjadi “ya”..


“Ki” adalah kependekan dari kata “aki” atau “kaki” yang bermakna “kakek”. Sedangkan “ayi” merupakan sinonim dari “ari” atau “adi” yang berarti “adik”. Namun seringkali kata “ayi” ini, dilengkapkan menjadi “rayi” atau sering pula diucap “yayi”..


Jadi istilah “kyayi” ini, merupakan gabungan dari kata “ki” yang berarti “kakek” dan “ayi” yang berarti “adik”. Untuk lebih jelasnya lihat ilustrusi yang ditampilkan pada bagian bawah tulisan ini..


Mungkin pada awalnya istilah “kyayi” adalah sebutan untuk “adik(nya) kakek”, atau bisa juga berarti “kakek kecil”, yaitu paman dari ayah atau ibu. Namun seiring berjalannya waktu, panggilan “kyayi” kemudian menjadi bersifat umum, yaitu untuk menyebut “laki-laki tua atau dewasa yang dihormati”..


Untuk istilah “kyayi”, hingga saat ini masih lestari di wilayah Bali. Sedangkan di Jawa, sekarang kata ini berubah menjadi “kyahi”. Selanjutnya karena bunyi “H” seringkali diucap samar, maka kemudian berubah menjadi “kyai”. Untuk perubahan “Y” menjadi “H”, ini adalah kasus disimilasi antara golongan aksara ardhaswara dengan wisarga yang posisinya dalam warga aksara saling berdekatan..


Pada perkembangan berikutnya dalam tradisi Jawa, istilah “kyahi” kemudian tidak hanya digunakan untuk menyebut “laki-laki tua atau dewasa yang dihormati”. Tapi juga untuk menyebut “segala hal yang dihormati sebagaimana orang tua”. Termasuk di sini benda-benda pusaka dan binatang peliharaan yang diistimewakan..


Demikian ilmu dan informasi yang bisa kami persembahkan pada kesempatan hari ini. Semoga ini bisa bermanfaat serta mohon maaf jika seumpama ada kesalahan dan atau kekeliruan di dalam thread yang kami tulis ini..


Keterangan: Sumber artikel asli berasal dari sini, namun dengan beberapa sedikit perubahan.
Posting Komentar