[TR] Pengalaman Kedua Saya Naik KA Lodaya
Prolog: Alkisah pada 10 tahun yang lalu (2013), saya pernah naik KA campuran (eksekutif-bisnis) dari Jogja menuju Bandung. Kala itu statusnya hanya sebagai KA tambahan, yang beroperasi di hari raya Idul Fitri di tahun tersebut. Ya jadi ceritanya ketika itu TS ngetrip pada saat moment libur Lebaran yang waktu itu jatuhnya di bulan Agustus 2013..
Kini 10 tahun berlalu, perjalanan dengan KA yang sama kembali saya lakukan. Dan momentnya pun sama; pada saat libur Lebaran atau pas di hari raya Idul Fitri tahun ini. Tentu saja ini jadi pengalaman kedua saya naik KA dimaksud, dalam sepanjang sejarah saya suka ngebolang naik sepur..
Meski demikian pastinya ada perbedaan antara perjalanan yang pertama di tahun 2013, dengan perjalanan yang kedua di tahun 2023 ini. Bahkan mungkin banyak sekali perbedaannya. Wajar sih, secara KA Lodaya ini mengalami perubahan dalam masa 10 tahun ini (jeda waktu antara trip pertama dan kedua)..
Dan diantara perbedaannya itu adalah jika dulu KA ini kelasnya campuran eksekutif-bisnis. Namun sekarang menjadi eksekutif-ekonomi premium (masih campuran sih sebenarnya). Terus jika dulu saya naiknya dari timur ke barat, maka kali ini sebaliknya. Bahkan full rute lho..
Terus perbedaan lainnya adalah jika dulu saya naiknya yang KA tambahan, maka untuk kali ini yang versi regulernya. Selain itu kelas yang saya pilih pun berbeda pula. Ya karena saat di episode pertama saya naiknya di kelas bisnis, sedangkan pas kemarin itu saya naiknya di kelas eksekutif..
FYI: Untuk periode Lebaran tahun ini, KA Lodaya juga ada yang versi tambahannya dengan kelas yang sama pula (dulu juga yang versi reguler dan tambahannya kelasnya sama; eksekutif-bisnis)
Lalu seperti apa cerita keseruan saya saat naik KA yang namanya diambil nama seekor binatang macan itu? Yuk simak kisah lengkapnya di bawah ini..
Sore itu pasca saya mengunjungi Masjid Al-Jabbar, saya langsung balik kandang ke stasiun Bandung, tempat dimana saya memulai trip menuju ke destinasi tersebut. Dan sama dengan pas berangkatnya, saat pulangnya pun saya naik KA Lokal juga serta naiknya pun masih tetap di stasiun Cimekar (stasiun yang jadi tempat tujuan buat ke Masjid Al-Jabbar)..
Selanjutnya setelah tiba di BD, saya pun lalu turun dan keluar area dari peron stasiun. Hanya sekitar 1,5 jam saja istirahatnya buat saya menunggu trip berikutnya, yang kebetulan startnya masih dari stasiun pusatnya Daops 2 tersebut. Tentu saja perjalanan yang dimaksud adalah perjalanan dengan KA Lodaya, sebagaimana yang sudah saya bahas di prolog atas..
Dan karena pada saat itu space waktunya nggak banyak, saya cuma memanfaatkannya dengan sekedar menunaikan sholat jamak (Maghrib-Isya) dan makan malam. Setelah itu barulah saya boarding atau chechk in saat waktunya sudah tiba. Atau tepatnya saat pemberangkatan KA Lodaya sudah mulai mendekat secara jadwal..
FYI: KA Lodaya ini dijadwalkan berangkat pada pukul 19:10 sesuai jadwal perkanya si doi
Pada akhirnya jam keberangkatan KA yang saya naiki itu pun tiba, tatkala jarum jam sudah menunjukkan pukul 7 malam lewat 10 menit. Dan wuss, seketika rangkaian KA Lodaya pun mulai melaju dengan meninggalkan stasiun Bandung buat menuju stasiun terminusnya yakni stasiun Solo Balapan yang berada di area Daops 7 sana..
*kenapa saya bilang baru? karena terakhir saya ke sini pada tahun 2019, bangunan masjid ini belum ada
FYI: Escalator ini juga (beserta jembatan under passnya) termasuk bangunan baru di area stasiun Bandung. Dan ini fungsinya adalah buat sebagai pintu keluar masuk atau penghubung antar peron di stasiun tersebut. Jadi jika kita mau naik KA di stasiun ini, maka harus melewati escalator ini.
dan seperti inilah penampakan rangkaian sang macan Lodayaku, yang akan membawa saya ngetrip ke Solo pada malam itu
Oh ya di trip ini saya duduk di kereta eksekutif 1 dengan no tempat duduk 2A. Sementara untuk stasiun tujuannya adalah Solo Balapan. Atau dengan kata lain, saya naik KA ini secara full rute..
Kalau kemudian ada yang tanya; saya melakukan perjalanan ke Solo pada saat itu, dalam rangka apa? Untuk yang ini, jawabannya bisa anda simak di sambungan thread yang ini ya..
*tunggu saja ya gaess..oke???
Oh ya sebelum saya melanjutkan ceritanya lagi, saya mau kasih tahu kalau tiket KA yang saya beli di dalam perjalanan ini cuma 100k. Lho, koq bisa murah gitu? Padahal naiknya yang kelas eksekutif lho..
Mau tahu kenapa saya bisa naik KA ini dengan harga segitu? Ya kebetulan ini tiket promo. Dan saya mendapatkan pada saat bulan puasa lalu. Kebetulan pada saat itu, PT. KAI sempat merilis tiket promo di periode tanggal perjalanan yang saya pilih ini.. Hehe
sementara itu ini adalah lokomotif penariknya yang memakai CC206
Sekarang kita balik lagi cerita on boardnya ya..
Dan malam pun berlalu, mengikuti pekatnya langit gelap di ujung sana. Dalam pada itu, perjalanan kami pun lancar jaya dengan nyaris tanpa hambatan sama sekali..
Selanjutnya laju kami pun semakin menjauh manakala waktu malam sudah semakin larut. Sejurus dengan itu, suasana di dalam rangkaian KA semakin sepi dan sunyi. Itu karena sebagian para penumpangnya lebih memilih istirahat, ketimbang melakukan aktivitas tertentu..
Saya pribadi kalau perjalanan malam, memang lebih memilih istirahat total. Soalnya mau ngapain atuh? Mau melihat pemandangan di luar sana, pasti nggak bisa secara sudah pasti gelap gulita. Paling banter, mungkin mainin gadget atau HP yang kita bawa..
Itu pun saya kalau mainin HP, paling cuma sekedar buka akun media sosial saya saja. Tapi itu pun dengan catatan kalau sinyalnya mendukung. Kalau nggak, ya nggak bisa..
Selain itu paling dengerin musik atau lagu-lagu dari HP via earphone. Terlebih lagi kalau mendengarkannya sambil tiduran, alih-alih buat sebagai pengantar tidur. Tapi memang aktivitas ini paling sering saya lakukan. Terutama jika sedang ngebolang naik KA..
*nggak apa-apa kan? toh gratis ini kalau mau selpi mah, alias nggak bayar..wkwk
Skip, dan laju kami pun semakin menjauh tatkala senja malam berganti hari. Itu tandanya perjalanan KA Lodaya di malam itu, sudah memasuki masa-masa purna. Atau dengan kata lain, ia sebentar lagi akan selesai berdinas di hari itu, saat tiba di stasiun terminusnya yakni Solo Balapan..
Pada akhirnya sang macan Lodayaku tiba jua di stasiun Solo Balapan, yang merupakan stasiun ujung destinasi dari KA ini, jika dari arah barat. Ketika itu kami tiba di SLO pada sekitar pukul setengah 4 pagi dini hari kurang 2 menit. Secara jadwal, hitungannya tepat waktu..
Setelah tiba di SLO, maka satu per satu para penumpang yang masih tersisa di dalam rangkaian KA, turun dan lalu keluar buat menuju destinasi berikutnya. Tak terkecuali saya sendiri..
Oh ya sejatinya sitkon penumpang KA Lodaya pada malam itu nggak terlalu ramai. Bahkan di kereta saya (ekse 1), masih banyak yang kosong. Jadi pas tiba di Solo Balapan itu, jumlah penumpang yang turun agak sedikit. Soalnya mungkin sudah turun di stasiun-stasiun sebelumnya..
FYI: saat KA berhenti di YK, saya dalam keadaan ke alam mimpi..jadi nggak tahu momentnya seperti apa dan bagaimana
*ya iyalah! jam segitu (setengah 4 dini hari), di sana memang nggak ada jadwal keberangkatan atau kedatangan KA
Itulah sekelumit cerita perjalanan saya dengan KA Lodaya dari Bandung ke Solo, yang saya lakukan pada awal bulan Mei lalu. Dan ini jadi pengalaman kedua saya naik KA tersebut, setelah yang pertama kalinya pada tahun 2013 lalu..
Secara umum, saya lebih berkesan pas naik yang pertama meski statusnya hanyalah KA tambahan. Dan juga ketika itu secara durasi perjalanan agak lebih lama, ketimbang yang ini..
Akan tetapi yang spesial dari perjalanan tersebut adalah waktu perjalanannya pagi. Jadinya saya bisa melihat pemandangan di luar sana. Terus pada saat itu, saya masih newbie dalam hal naik KA jarak jauh. Jadi semangatnya masih menggebu-gebu.. Hehe
Sedangkan untuk perjalanan Lodaya yang ini, blass hampir nggak ada kesannya sama sekali. Ya meski saya naik dengan rangkaian yang berbeda atau malah terbilang baru untuk KA ini, bila dibandingkan dengan pas tahun 2013 lalu..
Namun rangkaian KA ini kan kalaupun baru, ya hampir sama dengan beberapa KA lainnya untuk era sekarang ini yakni stainless steel (SS). Dan saya sudah pernah mencobanya di beberapa KA, termasuk kelas eksekutifnya. Jadi ya nggak spesial-spesial amat sebenarnya..
Ya kalaupun ada nilai plusnya di perjalanan ini, paling dari harga tiketnya yang sangat murah sekali yaitu cuma 100k (tiket promo gitu lho!). Sedangkan pas di perjalanan pertama, saya beli tiket dengan harga normal sebesar 260k pada saat itu untuk kelas bisnis..
*harga 260k ini untuk tarif musim Lebaran di tahun itu ya..dan mungkin termasuk cukup mahal pada masanya
Oke demikian cerita jurnal perjalanan saya kali ini. Nantikan cerita jurnal perjalanan berikutnya, yang pastinya nggak akan kalah serunya dengan yang ini..
Oke, sekarang saya pamit dan salam sepur mania. Soko nyepur dadi sedulur..























