Doa Dalam Ulang Tahun
ilustrasi gambar oleh pixabay (edited by zaeabjal17.com)
Doa Dalam Ulang Tahun
Selama ini yang kita tahu, tradisi merayakan ulang tahun adalah hal yang tabu bagi umat muslim. Itu karena tradisi ini dianggap sebagai tradisi dari kaum non muslim. Terkhusus dari luar sana (baca negara barat). Apalagi tradisi ini sering dianggap tidak berfaedah. Soalnya hanya sekedar berfoya-foya dengan balutan pesta mewah nan meriah..
Meski demikian di masyarakat kita ada juga yang kerap merayakan tradisi ini. Tapi tentunya disesuaikan dengan adat dan kebiasaan yang berlaku di sini. Seperti misalnya kalau orang Islam, biasanya dengan menggelar acara syukuran dengan memanjatkan doa-doa tertentu, atau ada juga yang merayakannya dengan menggelar acara pesta yang sangat sederhana sekali..
Tapi sebenarnya hukum merayakan ulang tahun itu seperti apa sih? Apakah memang benar nggak boleh, karena nggak sesuai dengan tradisi Islam?
Dalam hal ini, Al-Hafidz As-Suyuthi sempat menulis ringkasan kitab kecil bernama Wushul Al-Amani bi Ushul At-Tahani. Isinya yaitu tentang dalil-dalil yang mendasari ucapan selamat hari raya, pergantian bulan dan tahun serta momentum lainnya..
Dan di antara isinya itu adalah dalil tentang ucapan selamat ketika ada orang yang baru sembuh dari sakit, ucapan selamat setelah melakukan ibadah haji, ucapan selamat dalam pernikahan, ucapan selamat lahirnya seorang anak, hari raya, tibanya bulan Ramadhan dan lainnya..
Memang di kitab tersebut memang tidak disampaikan dalil secara khusus yang berkaitan dengan ucapan selamat ulang tahun. Tapi itu bukan berarti hukumnya bid'ah dan dilarang..
Itu karena ulang tahun adalah hari kebahagiaan para sahabat atau tetangga kita. Dan saat mereka sedang berbahagia itu, kita dianjurkan mengucapkan selamat dan doa. Al-Hafidz As-Suyuthi di bagian penutup kitab tersebut sempat mengutip riwayat hadis berikut ini:
«ﺃﺗﺪﺭﻭﻥ ﻣﺎ ﺣﻖ اﻟﺠﺎﺭ؟ ﺇﻥ اﺳﺘﻌﺎﻥ ﺑﻚ ﺃﻋﻨﺘﻪ، ﻭﺇﻥ اﺳﺘﻘﺮﺿﻚ ﺃﻗﺮﺿﺘﻪ، ﻭﺇﻥ ﺃﺻﺎﺑﻪ ﺧﻴﺮ ﻫﻨﺄﺗﻪ، ﻭﺇﻥ ﺃﺻﺎﺑﺘﻪ ﻣﺼﻴﺒﺔ ﻋﺰﻳﺘﻪ»
Artinya: "Tahukah kalian apa hak tetangga? Jika dia minta tolong maka kau bantu dia. Jika dia hutang uang maka kau beri hutang. Jika dia bahagia maka ucapkan selamat untuknya. Jika dia terkena musibah maka kau berbela sungkawa untuknya" (HR Thabrani, Al-Kharaithi dan Abu Syekh)..
Terkait status hadits ini, diberi penilaian sendiri oleh Al-Hafidz As-Suyuthi:
ﺭﻭاه اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ ﻣﺴﻨﺪ اﻟﺸﺎﻣﻴﻴﻦ، ﻭاﻟﺨﺮاﺋﻄﻲ ﻓﻲ ﻣﻜﺎﺭﻡ اﻷﺧﻼﻕ ﻋﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﺑﻦ ﺷﻌﻴﺐ ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ ﻋﻦ ﺟﺪﻩ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﻟﻪ ﺷﺎﻫﺪ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺟﺒﻞ ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺑﻮ اﻟﺸﻴﺦ ﻓﻲ اﻟﺜﻮاﺏ، ﻭﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﺑﻦ ﺣﻴﺪﺓ ﺃﺧﺮﺟﻪ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻜﺒﻴﺮ.
Bukankah acara semacam itu tasyabbuh dengan agama lain? Kalau mau dinilai tasyabbuh jangan cuma ulang tahun. Karena sesungguhnya ada banyak bentuk tasyabbuh dengan agama lain tapi tidak pernah diangkat..
ﺛﻢ اﻋﻠﻢ ﺃﻥ اﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﺑﺄﻫﻞ اﻟﻜﺘﺎﺏ ﻻ ﻳﻜﺮﻩ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺷﻲء ﻭﺇﻧﺎ ﻧﺄﻛﻞ ﻭﻧﺸﺮﺏ ﻛﻤﺎ ﻳﻔﻌﻠﻮﻥ ﺇﻧﻤﺎ اﻟﺤﺮاﻡ ﻫﻮ اﻟﺘﺸﺒﻪ ﻓﻴﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﺬﻣﻮﻣﺎ ﻭﻓﻴﻤﺎ ﻳﻘﺼﺪ ﺑﻪ اﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﻛﺬا ﺫﻛﺮﻩ ﻗﺎﺿﻲ ﺧﺎﻥ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ اﻟﺠﺎﻣﻊ اﻟﺼﻐﻴﺮ ﻓﻌﻠﻰ ﻫﺬا ﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﻘﺼﺪ اﻟﺘﺸﺒﻪ ﻻ ﻳﻜﺮﻩ ﻋﻨﺪﻫﻤﺎ
Artinya: "Ketahuilah bahwa Tasyabuh (menyerupai) dengan Ahli kitab tidak makruh dalam semua hal. Kita makan dan minum, mereka juga melakukan hal itu. Keharaman dalam tasyabuh adalah (1) Sesuatu yang tercela (2) Kesengajaan meniru mereka. Sebagaimana disampaikan oleh Qadli Khan dalam Syarah Jami' Shaghir. Dengan demikian jika tidak bertujuan menyerupai ahli kitab maka tidak makruh" (Al-Bahr Ar-Raiq 2/11)..
Jadi intinya bagi keluarga Muslim yang akan ingin merayakan atau mengadakan acara ulang tahun, hendkanya lebih mengarah kepada pemberian sedekah atau hadiah. Dan itu jelas bukan sesuatu yang tercela. Dan mereka melakukannya juga tidak bermaksud untuk meniru Agama lain. Soalnya kebiasaan seperti ini, sudah menjadi tradisi umum di negara manapun..
Demikian ilmu dan informasi yang bisa kami berikan pada kesempatan kali ini. Mudah-mudahan ini bisa bermanfaat dan mohon dimaafkan jika seumpama ada salah-salah kata atau kalimat yang kami buat dalam postingan ini..
*Diolah dari berbagai sumber
